Gus Dur dan Ibu Gedong di sebuah acara di Bali/dok
Balinetizen.com, Denpasar
Di hari ulang tahun Ibu Gedong Bagoes Oka yang ke 104 tahun, lahir 3 Oktober 1921, patut dikenang tokoh gerakan “Gandhian Movement” Indonesia, pendiri Gandhi Ashram, Canti Dasa, Candi Desa yang mendunia.
Ibu Gedong adalah pejuang gigih kemanusiaan, dengan menggunakan spirit Mahatma Gandhi sebagai rujukan: Ahimsa (emoh kekerasan), Satya (berdasarkan prinsip kebenaran).
Menurut Jro Gde Sudibya, teman sekaligus “muridnya” Ibu Gedong, bahwa di lingkungan Ashramnya yang bersahaja, asri dan sarat spirit, terpampang pemikiran Gandhiji yang mendunia.
Ibu Gedong telah memberikan batasan tentang prinsip dan moralitas kehidupan yakni Seven Social Sins (7 Dosa Sosial) yakni :
1.Politic without Principle – politik tanpa prinsip-.
2.Business without Morality -Bisnis tanpa Moralitas.
3. Wealth without Work, -Pencarian Kekayaan tanpa Kerja-.
4.Education without Character -Pendidikan tanpa Karakter-.
5.Scientific without Humanity, -Pencarian Iptek tanpa Rasa Kemanusiaan-.
6.Leissure without Consience, -Pencarian Kesenangan tanpa Pembatasan Diri-.
7.Pray to God without Sacrifie, -Pemujaan kepada Tuhan tanpa Kerelaan Berkorban-.
Menurut Jro Gde Sudibya, Ibu Gedong tahun 1998, dalam usianya yang ke 77 tahun gigih berjuang dalam gerakan reformasi, dengan suara lantang tentang arti penting penegakan demokrasi dalam perspektif penghargaan HAM dan pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan.
“Sebagai pengikut ajaran Gandhi (Gandhian), sama seperti Gus Dur selalu menggemakan, memberikan penyadaran dari prinsip dasar politik, berbasis kebenaran (Satya), dan cara-cara berpolitik yang emoh kekerasan (Ahimsa),” katanya.
Merujuk Gandhiji, kata Jro Gde Sudibya, bahwa kekuatan moral (moral force) adalah kekuatan utama perjuangan untuk memuliakan manusia dan kemanusiaan.
Diceritakan bahwa sebuah “moment of truth”, di hari ulang tahun Ibu Gedong yang ke 78 tahun, 3 Oktober 1999 bertemu Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, di tengah isi santer Gus Dur akan dicalonkan oleh kelompok Poros Tengah menjadi Presiden. Menunggu Gus Dur sekitar 30 menit, terdengar suara Gus Dur yang naik tinggi (tidak seperti biasanya) ketika menerima rombongan mahasiswa.
Diceritakan, setelah mahasiswa keluar, seorang staf menyampaikan ke Gus Dur disaksikan oleh sahabat Gus Dur Alwi Shihab dan Ratih Hardjono sekretaris Gus Dur, Ibu Gedong mau bertemu.
Dengan enteng Gus Dur meminta ke stafnya untuk dikupaskan Mangga, sambil ngobrol dengan Ibu Gedong. Ratih Harjono telah mengenal Ibu Gedong, tetapi Alwi Shihab tidak, dari dari gesturenya sangat tampak, kenapa wanita tua berpakaian kebaya sederhana ini, sangat dekat dengan Gus Dur dan Gus Dur sangat respek.
Sambil makan mangga Gus Dur cerita panjang lebar tentang situasi politik terakhir, dan kemungkinan akan terjadi Presiden seperti yang telah diperkirakan oleh Gus Dur sebelumnya.
Diceritakan, ada sedikit ketegangan dalam pertemuan ini, tidak dalam kata-kata tetapi dalam gesture, karena jika menyimak beberapa kali pertemuan Gus Dur di Ashram Gandhi Canti Dasa, Gus Dur selalu menyatakan tidak akan maju menjadi Presiden, tetapi akan mendukung penuh Mbak Mega, panggilan akrab Gus Dur untuk Megawati Soekarnoputri. Kemudian sejarah kontemporer negeri ini telah mencatatnya.
Gelising cerita, Ibu Gedong telah tiada, meningal 14 November 2002, tidak hanya dikenang oleh kader-kader terdekatnya.
“Menyebut beberapa: Pak Man Sadra, Dik Kawi dan jumlah tak terhitung anak-anak didik di Ashram plus teman aktivis kemanusiaan, -global gandhian movement- di seluruh dunia. Ibu Gedong telah menjadi spirit, -our great woman as a eternal spirit-.,” katanya.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

