Penulis : Jro Gde Sudibya, pernah menjadi relawan di kepengurusan PB PBSI di era kepemimpinan Pak Try.
Wakil Presiden ke 6 negeri ini Try Sutrisno telah wafat pagi ini, 2 Maret 2026 di Jakarta. Pemimpin dengan penampilan simpatik dan kemudian empatik pada rakyat yang dipimpinnya. Semenjak menjadi Panglima Tertinggi ABRI sekarang menjadi TNI, tampil dengan empati dalam berinteraksi dengan publik. Kedekatannya dengan rakyat, dapat mengingatkan akan sosok Pak Dirman, seorang guru yang kemudian berjuang untuk negeri di medan perang griliya. Pendiri TKR (Tentara Keamanan Rakyat) 5 Oktober 1945 di Jogyakarta yang sedang bergolak melawan penjajah Belanda.
Dari beberapa teman yang dekat dengan Pak Try bercerita tentang empati Pak Try terhadap lingkungannya. Seorang adik iparnya bercerita, pada saat Pak Try dengan pangkat Kolonel AD di kompleks perumahan tentara Cijantung, Jakarta Timur, setelah perayaan ulang tahun sederhana, meminta keluarga secara segera membagikan makanan yang masih ada ke penduduk kampung di belakang asrama. Pak Try tidak mau kalau makanan yang masih ada dibagikan esok paginya. Gambaran kedekatan hati beliau dengan rakyat.
Sebagai Panglima Tertinggi ABRI, Pak Try menjadi Ketua Umum PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia). Pada rapat perdana PB PBSI di Istora Senayan Jakarta, seorang rekan yang mendampingi Pak Try sebagai pengurus, menunggu kedatangan beliau di lobi. Setelah Pak Try sampai di tempat, belau melihat hampir semua air pam tidak dimatikan, beliau turun langsung mematikan air tanpa memerintahkan ajudan. Manajer umum Istora sudah siap mental untuk dimarahi di hadapan publik. Tetapi setelah sang manajer melaporkan, Pak Try hanya tersenyum dan menepuk bahunya.
Pengurus PB PBSI yang lain yang mengurus keperluan personal Ketua Umum PBSI bercerita, dalam pengeluaran beliau tidak ada satupun yang menyangkut keperluan pribadi dan keperluan keluarga. Padahal dengan kekuasaan yang sangat besar PANGAB.
Kebersahajaan, simpati dan empati kepada kepentingan publik merupakan suri teladan yang ditinggalkan oleh beliau kepada generasi sekarang.
Pemimpin publik sekarang, tidak usahlah berempati pada rakyat, cukup kerja sesuai aturan, mengikuti sumpah jabatan, tidak korupsi dan tidak mendisign aturan untuk melegitimasi korupsi sistemik, sudah berkontribusi optimal mengurangi derita rakyat, di tengah ketidak-pastian kehidupan dewasa ini.

