Balinetizen.com, Denpasar-
“Sembah sujud di kaki padma Shang Hyang Marage Suwung yang bersinar lembut. Atas anugerah yang melimpah. Doa kepada para leluhur yang damai”.
Semua orang ingin hidup bahagia. Orang orang, saya dan Anda juga, mencari kebahagian kemana pun keberadaannya. Namun semakin dicari semakin jauh. Kebahagian sesungguhnya ada di dalam hati. Menyangkut cara pandang dan rasa syukur.
Hanya sedikit orang yang dapat memaklumi situasi seseorang pada sebuah momen. Bila saja orang orang mempunyai sedikit perhatian pada orang lain, dengan memaklumi, banyak orang yang selamat dari derita. Namun seseorang kadangkala ikut bercampur. Sudah menjadi ciri, suka dan duka silih berganti dalam kehidupan manusia. Umat Hindu sangat memaklumi dua hal ini (rwa bhineda). Hanya saja pola pikir manusia itu selalu berharap yang baik : kegembiraan, kesenangan, keberhasilan dan keasyikan. Kesenagan dan kebahagian itu selalu dicari keluar dari dirinya, bukan dari dalam dirinya (atma shakti).
Seseorang, termasuk umat Hindu sangat ingin hidup bahagia (sukham bhawanthu). Hidup bahagia tentu saja dikaitkan dengan hal hal yang menyenangkan (shringara). Hal hal yang membuat tersenyum, misalnya harta melimpah (dhruwea), anak anak yang sehat dan sukses (suputra), mungkin juga istri cantik di umur 60 tahun (surupa). Sederet bau keindahan itu menjadi harapan.
Namun hidup, sebagaimana juga umat Hindu maklumi, tidak seindah harapan. Hidup penuh dengan godaan. Hidup penuh dengan fenomena dan dinamika, salah satunya adalah kegelisahan. Inilah yang diratapi oleh Arjuna, sang pemenang, menjelang perang. Gelisah karena akan membunuh saudara saudaranya, membunuh para guru dan orang orang dihormati. Cinta kasih atas kemelekatan membuat Arjuna dibelengu oleh kegelisahan (anaga). Untungnya Arjuna sahabat Tuhan (atma prema), yang memiliki kasih tak terbatas Paduka Sri Krishna. Kegelisahan itu dijawab Oleh Tuhan dengan lahirnya kidung suci Bhagawad Gita (Nyanyian Tuhan).
Bagaimana kalau umat Hindu, seperti kita yang serba terbatas dirundung kegelisahan? Apa yang dapat kita perbuat? Dengan siapa seseorang yang sedang dirundung kegelisahan membagi deritanya? Bertahun tahun seseorang sehat, bahagia, berkelimpahan, namun sedetik dalam derita, seseorang melihat seperti dunia sudah runtuh. Seluruh manusia nampak mengejek dan menistakan. Kita hanya membutuhkan permakluman dan jangan lagi mencoba berceramah dengan nasehat. Orang yang sedang dirundung malang tidak membutuhkan nasehat.
Nasehat hanya mempan untuk orang yang sedang bahagia. Sama dengan orang yang lapar, ia tidak membutuhkan nasehat bagaimana menanam padi, memetiknya kemudian menanak menjadi nasi. Orang lapar hanya butuh makanan, misalnya nasi atau roti. Demikian juga kegelisahan, hanya membutuhkan sedikit perhatian.
Kegelisahan terjadi karena kemelekatan terhadap sesuatu yang dicintainya. Inilah yang disebut cinta buta, sebuah cinta yang tidak dimengerti. Obyek cinta harus jelas bila tidak ingin menderita nan gelisah. Ada empat kebutuhan dasar manusia : sandang, pangan, papan dan tamba (obat obatan). Empat ini jugalah penyebab kegelisahan bila tidak terpenuhi. Siapakah seseorang yang tidak gelisah? Orang yang mampu melepaskan. Karena itu, hidup harus mencari dan juga melepaskan.
Dalam Bhagawad Gita II:25, dapat ditemui mantra berbunyi :
“avyakto’yam acintyo’yam avikāryo’yam ucyate tasmād evaṁ viditvainaṁ nānuśocitum arhasi “
Artinya : “Dia tak dapat diwujukan dengan kata kata, tak dapat dipikirkan dan dinyatakan, tak berubah ubah, karena itu dengan mengetahui sebagaimana halnya, engkau tidak perlu berduka”
Agar kegelisahan itu menyingkir atau menjadi sahabat, hanya perlu mengerti lalu memaklumi. Memaklumi hidup yang hanya terdiri dari dua hal: gembira atau bersedih; tenang atau gelisah, cinta dan benci. Bila dudukannya adalah gelisah, seseorang hanya butuh dudukan tenang. Dari tenang akan lahir damai, dari damai (shanti) akan lahir kesadaran (prema) untuk memaklumi. Keterbatasan pikiran seseorang, tidak mampu menjangkau hal yang tidak terbatas.
Pada awalnya orang hanya mengira menjadi bahagia bila telah memilik sedikit tabungan. Menjadi bahagia telah memiliki gubuk untuk berteduh. Namun triguna terus beraksi. Seperti pendakian sipiritual yang digoda oleh kekuatan, ketakjuban, dan kesidian (atma sidhi). Tujuan menjadi hilang karena fokus terbagi, karenanya kegelisahan mulai mengintai. Hidup akan terus berjalan bersama sang kala, karena itu untuk bahagia membiasakan diri memiliki dan juga melepas adalah sebuah kebahagian.
Semoga semua mahluk berbahagia
Om Santih Santih Santih Om.
Editor : Mahatma Tantra

