Meniru Investasi di Dubai Bisa Menjebak Bali ke Kapitalisme Pariwisata Lebih Dalam

0
27

 

Balinetizen.com, Denpasar

Membandingkan Keuntungan Investasi Properti antara Bali dengan Dubai Bisa Menjebak Bali ke Kapitalisme Pariwisata Lebih Dalam. Perbandingan dengan cara berpikir kapitalistik, maksimalisasi keuntungan dari pemilikan properti, sementara rakyat hanya sebagai penonton saja.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Selasa 16 Juni 2026.

Menurutnya, membandingkan Bali dengan Dubai aple to aple dalam perspektif berpikir kapitalistik tidaklah tepat.

Dikatakan, Dubai ibu kota dan provinsi dalam UEA (Uni Emirat Arab), merupakan negara dengan sistem momarkhi dipimpin Raja, dan Dubai oleh Sultan.

” Hampir semua keputusan penting negara ada di tangan Raja dan Sultan. Termasuk keputusan-keputusan penting tentang peningkatan kesejahteraan warga negara,” katanya.

Dikatakan, Persepsi dan keputusan Raja dan Sultan sangat menentukan. Ada lembaga sejenis perwakilan rakyat, yang penentuannya sangat ditentukan oleh Raja dan Sultan.

“Berbeda dengan Bali, bagian dari NKRI yang menganut sistem demokrasi konstitusional, sistem demokrasi berlandaskan UUD dan UU,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, pemerintah secara normatif konstitusional penyelenggara negara untuk tujuan kesejahteraan rakyat sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945.

Gelising cerita, membuat perbandingan kesempatan investasi dan proyeksi keuntungannya (finansial returns prediction) antara Bali dan Dubai, termasuk kategori “menjebak” dan berbahaya, karena bisa melahirkan persepsi Bali bisa saja dikelola dengan model Dubai.

Menurut Jro Gde Sudibya, Ini termasuk agenda berbahaya, menimbulkan persepsi keputusan pemerintah pusat bersifat mutlak seperti yang berlangsung di Dubai, Bali seakan-akan tanah kosong tanpa peradaban dan budaya, bisa diperlakukan model Dubai.

“Bali punya kekhasan, Dubai punya keunikan, tetapi dengan motif kapitalisme pariwisata, maksimalisasi investasi properti, cara berpikir berbahaya yang mesti ditolak oleh krama Bali, ” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Baca Juga :  Buka Liga Santri 2022, Bupati Tamba Minta  Jaga Sportifitas

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here