Keterangan Poto: Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tanaya dan Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia saat pembukaan Mahasaba XIII di Jakarta.
Denpasar, (Metrobali.co.id)
Pernyataan yang cukup provokatif dari Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tanaya saat pembukaan Mahasaba XIII yang ditujukan kepada Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia—“Sekarang jangan mau diadu domba. Pak Putu Dunia, kita sama-sama jenderal”—menarik untuk dicermati.
Hal itu dikatakan Surya Anom, Wk Ketua Pengurus Harian PHDI Pemurnian Pusat, Sabtu 10 Oktober 2026 di Denpasar.
Dikatakan, anggapan bahwa keberadaan Ida Bagus Putu Dunia di seberang posisi Pak Wisnu Bawa Tanaya merupakan hasil dari adu domba adalah sebuah pemikiran yang keliru.
“Sikap dan posisi yang diambil oleh Pak Putu Dunia bukanlah buah dari provokasi pihak luar, melainkan wujud dari integritas, keberanian, serta kedalaman pemahaman beliau,” katanya.
Dikatakan, sebagai Ketua Pengurus Harian PHDI Pemurnian, Pak Putu Dunia melangkah berdasarkan pemahaman yang mendalam bahwa ada perbedaan fundamental antara ajaran Sampradaya (Hindu ala India) dengan Hindu Dharma (Nusantara).
“Hindu Dharma di Indonesia memiliki tatanan ritual, nilai-nilai lokal, teologi, serta tradisi adat leluhur yang telah menyatu harmonis selama berabad-abad,” katanya.
Sementara itu, lanjut Surya Anom gerakan Sampradaya membawa teologi dan praktik luar yang cenderung mendegradasi tradisi lokal serta berupaya menggantinya.
” Infiltrasi dan manipulasi inilah yang menjadi pemicu utama perjuangan ini, demi menjaga akar budaya dan keyakinan warisan leluhur agar tidak tergerus,” kata Surya Anom
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Pak Putu Dunia adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral seorang tokoh nasional beragama Hindu Dharma.
“Beliau melihat dengan pasti bagaimana rongrongan Sampradaya bergerak sistematis, bahkan menjadikan lembaga seperti PHDI sebagai kendaraan misionaris mereka,” katanya.
Dikatakan, berada di barisan yang sama dengan beliau, saya menyaksikan sendiri bahwa setiap keputusan yang diambil oleh Pak Putu Dunia lahir dari kesadaran murni.
“Perjuangan ini steril dari kepentingan politik pragmatis, materi, maupun perebutan jabatan,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, sangat disayangkan jika ada yang menilai langkah seorang jenderal bintang empat dapat dengan mudah diadu domba; anggapan demikian justru merendahkan kapasitas moral dan intelektual seorang pemimpin.
“Kita tentu berharap nasihat tersebut bukanlah refleksi dari sudut pandang pribadi yang menggeneralisasi kondisi orang lain,” katanya.
Menurut Surya Anom, “Kita tidak menampik bahwa perjuangan membersihkan PHDI terasa menyakitkan dan kerap dibenturkan dengan isu perpecahan umat.
” Namun, kita perlu bersikap kritis di tengah maraknya kamuflase—di mana kelompok yang menjalankan ajaran dan teologi berbeda berkamuflase atas nama “persatuan dan kesatuan umat”,” kata Surya Anom.
Ditambahkan, persatuan tentu penting, tetapi tidak dengan mengorbankan kesucian dan keaslian ajaran Hindu Dharma.
“Terlepas dari dinamika yang ada, doa dan harapan terbaik tetap kita panjatkan agar Mahasaba berjalan sukses, serta benar-benar mampu menjaga kemurnian ajaran Hindu Dharma dari berbagai kontaminan dan infiltrasi Sampradaya,” kata Surya Anom.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

