Ket foto : SVP Group Suistanability & Corporate Communication Telkom, Ahmad Reza
Balinetizen.com, Denpasar
Di tengah akselerasi teknologi yang bergerak secepat kilat, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tidak ingin sekadar menjadi penonton. Ibarat pepatah “berbenah layaknya lemper” yang padat dan berisi, perusahaan pelat merah ini tengah melakukan perombakan besar-besaran untuk menyongsong era digital, khususnya di Provinsi Bali.
Tantangannya tidak main-main. Berdasarkan data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 dari Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Bali saat ini menempati peringkat ke-11 dari 38 provinsi dengan skor 48,22%. Meski infrastruktur digital di Bali sudah menyentuh angka 63,98%, pilar literasi dan pemberdayaan masih memerlukan dorongan kuat.
GM Telkom Witel Bali, Ismono Adi Jatmiko, mengungkapkan bahwa salah satu mandat utama yang diterima dari Gubernur Bali adalah meniadakan titik buta sinyal (blank spot) di delapan kabupaten.

Ket foto grafis : Peringkat 11 nasional, Bali Targetkan zero ‘blank spot’ bersama Telkom!
“Pilar infrastruktur masih bisa ditingkatkan dan itu menjadi tugas kami. Namun, literasi dan pemberdayaan adalah peran bersama masyarakat, pendidikan, dan media massa,” ujar Ismono dalam acara Media Gathering ‘TLKM 30: Menyatukan Teknologi, Konten dan Distribusi untuk pertumbuhan bersama di Denpasar, Kamis (5/2/20226).
Selain perluasan jangkauan, Telkom fokus pada estetika dan ketertiban kota. Masalah kabel udara yang semrawut menjadi prioritas. “Penataan jaringan kabel udara yang serabut dan merusak integrasi sedang kita rapikan. Kami sudah sepakat dengan otoritas dan pemerintah daerah untuk melakukan penataan, bahkan di beberapa daerah secara ekstrem kabel dipindahkan ke bawah tanah,” tambahnya.
Menyadari keluhan masyarakat mengenai harga kuota internet yang dirasa kian mahal, Telkom meluncurkan program Wi-Fi Voucher. Solusi ini menawarkan akses internet kecepatan tinggi di ruang publik dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp500 untuk 30 menit.
Keunggulan program ini adalah fleksibilitasnya. Ismono mencontohkan, bagi rekan media yang harus mengunggah gambar besar namun terkendala kuota, voucher ini menjadi penyelamat. “Bayangkan, beli voucher Rp50.000 di Bali, lalu berangkat ke Jakarta atau Aceh, selama ada SSID (ID Wi-Fi) yang sama, itu free dan bisa langsung koneksi karena berlaku nasional,” jelasnya.
Rencananya, titik-titik Wi-Fi ini akan disebar di seluruh daerah wisata sepanjang pantai dan ruang publik untuk memudahkan masyarakat serta wisatawan.
Di balik gebrakan di lapangan, terdapat mesin transformasi besar yang disebut TLKM 30. SVP Group Sustainability & Corporate Communication Telkom, Ahmad Reza, menjelaskan bahwa kerangka strategis ini dirancang untuk memperkuat daya saing jangka panjang melalui empat pilar utama yakni, Operational & Service Excellence: Memperkuat budaya kerja melalui program BISA (Bravery, Integrity, Service Excellence, Agility), Streamlining: Penataan portofolio bisnis agar lebih fokus pada bisnis inti dan pengembangan next-core business, Unlock Value: Mempercepat monetisasi aset infrastruktur dan membangun kemitraan strategis agar lebih lincah di pasar (ready to market dan Modus Operandi Shift: Transformasi dari sekadar perusahaan operasional menjadi strategic holding yang value-driven.
Telkom menyadari bahwa transformasi tidak bisa dilakukan sendirian. Ismono menekankan pentingnya kolaborasi dengan komunitas lokal, mulai dari pengusaha kerajinan hingga sektor perhotelan.
“Jika hanya mengandalkan pemerintah daerah atau BUMN saja tidak mungkin. Kita butuh komunitas. Hari Sabtu ini, kami melakukan penandatanganan dengan beberapa komunitas seperti IHTS, Putri, dan Pareglas untuk menginisiasi Wi-Fi Tour,” ungkap Ismono menutup penjelasannya.
Dengan kombinasi infrastruktur yang mumpuni, harga yang inklusif, dan strategi perusahaan yang lincah,i Telkom optimistis Bali bukan hanya akan menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga mercusuar digital Indonesia di masa depan.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

