Balinetizen.com, Denpasar –
Pasca banjir bandang yang menerjang sebagian Bali 10 September 2025 membuka kotak pandora bahwa Bali di hadapan kepada darurat dan krisis lingkungan.
Pesisir pantai diserbu begitu banyak fasilitas industri pariwisata, demikian juga kawasan yang membentang dari pantai sampai pegunungan. Lihat saja kawasan Jati Luwih yang dulu menjadi kebanggaan, dimana Sistem Subak yang melegenda digabungkan dengan semua simbol modernitas yang memberikan kegunaan ekonomi. Tetapi kini Jatiluwih sebagai model kawasan ideal menjadi “babak belur”,tidak terdapat tanda-tanda otoritas akan mampu mengambil solusi sebagai kompromi trade off -konflik- antara penyelamatan lingkungan alam dan budaya dengan kepentingan kapitalisme pariwisata. Lihat juga kondisi empat danau: Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan yang dipenuhi dengan fasilitas wisata dengan target penambahan PAD dengan mengorbankan sistem holistik lingkungan.
Dalam perayaan raina Sugian Jawa dan Sugian Bali, 13 November – 14 November 2025, kita dapat berefleksi sebut saja dalam kerangka hidup beragama Hindu di Bali.
Pertama, tatwa sebut saja filsafat Ketuhanan yang berangkat dari prmujaan Tuhan bertingkat: Leluhur (berbasis garis geneologis), para Ida Bhatara-Bhatari (para rokh suci yang telah berjasa mewariskan peradaban Bali), Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan aneka rupa dan simbolnya.
Pemujaan Tuhan bertingkat ini, melahirkan kewajiban etis untuk melestarikan warisan para pendahulu yang begitu dimulyakan, tanpa harus menjadi kaku sesuai dengan konsepsi Desa, Kala Patra dan juga Tri Semaya. Pembaharuan tidak saja dimungkinkan dan bahkan diwajibkan sejalan dengan pengetahuan, viveka dan kebijaksanaan yang dimiliki. Kedua, susila, etika dipegang teguh, kejujuran, penghormatan kepada sesama, respek pada alam, sebagai nilai yang melekat dalam diri, pacaran dari kesucian diri dan kemudian berdampak pada lingkungan sosial. Ketiga, upakara, ekspresi dari kualitas diri, sebagai instrument penyucian diri dan atau peningkatan kualitas diri secara rokhani.
Perbaikan dan perubahan karakter bersama yang diharapkan melahirkan prilaku sosial yang dapat berkontribusi dalam karut marut darurat dan krisis lingkungan yang sedang menimpa Bali.
Jro Gde Sudibya, intelektual, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

