Pecah Rekor Harga Minyak Amerika US$ 90.15 per barel

0
297

 

Balinetizen.com, Denpasar

Harga Minyak Amerika Serikat memecahkan rekor tertinggi sejak 2014. Harga minyak mentah naik 2.2% menjadi US$ 90.15 per barel pada basis intraday sejak 2014. Keputusan penolakan untuk meningkatkan produksi secara agresif oleh OPEC dan sekutunya memicu reli harga minyak AS serta kekhawatiran pasokan karena cuaca dingin di seluruh AS.

Minyak mentah Brent sebagai patokan dunia ditutup diatas US$ 90 per barel. Harga minyak AS melonjak setelah OPEC dan sekutunya menolak meningkatkan produksi serta kekhawatiran ketersediaan pasokan karena cuaca dingin di seluruh AS. Minyak mentah melonjak 2,2% pada perdagangan sore sekaligus menandai harga minyak AS menembus rekor pada basis intraday sejak oktober 2014. Di tengah dampak dari intervensi pemimpin AS ke pasar energi dan kekhawatiran Omicron, pada 1 Desember 2021 harga minyak ditutup pada level terendah di US$ 65.57 per barel dan telah melonjak 37%.

200.000 orang lebih kehilangan listrik karena cuaca dingin di seluruh Amerika Serikat. Ingatan badai Ida tahun lalu menjadi sorotan karena mematikan listrik bagi jutaan orang Texas.

“Ini histeria atau semacam ketakutan,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho seperti dikutip Reuters.

Beberapa orang di Wall Street menyarankan OPEC+ agar dapat meningkatkan produksi secara lebih substansial untuk memenuhi permintaan pasar. OPEC+ mengumumkan akan tetap mengikuti rencana sebelumnya untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari.

Melansir dari Detik Finance “OPEC+ memilih untuk mengadakan pertemuan terpendek dalam catatan dan menghentikan kenaikan bulanan 400 kb/d, bertahan dengan pendekatan manajemen lepas tangan meskipun ada ketakutan inflasi global,” tulis ahli strategi RBC Capital Markets dalam sebuah catatan kepada klien.

Baca Juga :  Raker Komisi IV DPR RI, Soroti Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Lingkungan dan Kehutanan TA 2022

Harga minyak Brent dapat menyentuh US$100 per barel pada kuartal ketiga menurut perkiraan Analis Goldman Sachs. Pelanggaran pemotongan produksi yang lebih cepat dapat dipertimbangkan oleh OPEC+. (hd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here