Pemangku dan Serati Banten di Desa Getasan Dilatih Tentang Banten

0
322

 

Balinetizen.com, Mangupura

 

Seluruh pemangku dan serati banten di Desa Adat Getasan, Kecamatan Petang, Badung, diberikan penataran dan pelatihan tentang banten.

 

Kegiatan yang diprakarsai prajuru Desa Adat Getasan ini dinilai  penting karena pemangku dan serati  bertugas mengarahkan sekaligus mempersiapkan upakara  yang dihaturkan. Namun, secara filosofi dan maknanya, belum tentu pula pemangku dan serati banten mendalami secara rinci.

 

Untuk itu, Desa Adat Getasan secara khusus memberikan pelatihan berupa “Peningkatan Kapasitas Pemangku dan Serati” kepada pemangku dan serati banten se-Desa Getasan bertempat di Wantilan Pura Dalem Buangga, Desa Adat Getasan. Selaku narasumber dan instruktur adalah Ida Pedanda Gede Mandhara Putra  Kekeran dari Griya Putra Mandhara Pemaron, Banjar Selat, Desa Selat, Abiansemal.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini, Kamis –Jumat (28-29/10) turut  melibatkan para tokoh adat di empat banjar se-Desa Adat Getasan, yakni Banjar Kauh, Banjar Tengah, Banjar Ubud dan Banjar Buangga.

 

Pada hari pertama, Kamis (28/10), pemangku dan serati banten secara khusus diberikan teori, untuk membedah apa itu filosofi banten. Yakni terkhusus tentang banten upakara atiwa-tiwa dan Dewa Yadnya.

Kemudian, hari kedua, Jumat (29/10) dilanjutkan dengan praktek. Yakni simulasi dan praktek membuat  sejumlah banten dan ulam upakara.

Selaku instruktur dan narasumber, sulinggih yang bernama walaka Ida Bagus Putu Sudarsana ini berharap pemangku dan serati banten selaku pihak yang mempersiapkan banten yang akan dihaturkan memiliki pemahaman yang sama tentang banten itu sendiri.

 

“Ini bukan untuk menyamakan bentuk dari banten yang dibuat, melainkan harus tahu makna dan filosofinya terlebih dahulu. Karena bentuk banten itu kan bisa berbeda-beda, sesuai dresta,” ujarnya.

Baca Juga :  Arkeolog cek temuan candi abad ke 12 di Palembang

 

Dalam kesempatan tersebut, Ida Pedanda juga mengatakan tujuan yang terpenting dari pelatihan tersebut adalah bagaimana membuat sumber daya manusia Umat Hindu berkualitas, paham akan tatwa, susila dan upakara yang ada. Setiap pemangku dan serati banten ketika ditanya masyarakat, mereka juga harus tahu apa yang dibuat dan yang akan dihaturkan.

“Ini penting, jangan sampai seorang pemangku dan serati banten itu ketika ditanya masyarakat (tentang banten), jawabnya “mule keto” (memang begitu),” kata Ida Pedanda Gede Mandhara Putra  Kekeran.

 

Sementara Ketua Panitia yang juga Bendesa Adat Getasan, I Gusti Ngurah Dharma Adnyana didampingi jajaran prajuru desa  menyatakan bahwa Pelatihan Peningkatan Kapasitas Serati Banten ini diadakan selama dua hari untuk meningkatkan kapasitas pemangku dan serati di Desa Getasan.

Adapun para pesertanya selain seluruh pemangku dan serati banten juga diikuti oleh seluruh prajuru dan sejumlah tokoh masyarakat se-Desa Adat Getasan.

Pelatihan ini juga dilaksanakan serangkaian dengan Karya Piodalan di Pura Dalem Buangga, Desa Adat Getasan.

“Kami harap setelah diadakan pelatihan ini, pemangku, serati banten dan para tokoh adat memiliki pemahaman yang sama akan banten yang akan dihaturkan. Karena terus terang  kegiatan adat keagamaan di Desa Adat Getasan lumayan padat, sehingga tidak bisa dilepaskan dengan banten,” tukas I Gusti Ngurah Dharma Adnyana.  (RED-BN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here