Pencerahan Dokter Putra Sedana Caput, Maknai Prokes Secara Non Medis Yang Semestinya Diikuti

0
287
dr. Ketut Putra Sedana,Sp.OG yang akrab disapa dokter Caput.

Balinetizen.com, Buleleng-

 

dr. Ketut Putra Sedana,Sp.OG yang akrab disapa dokter Caput ini, mungkin sudah tidak asing lagi namanya disebagian masyarakat Kabupaten Buleleng. Apalagi diera pandemi covid-19, kerap melakukan kegiatan sosial yang dilandasi atas cinta kasih, ketulus ikhlasan tanpa ada unsur tendensi menyasar kedesa-desa. Seperti diantaranya melakukan bakti sosial dan melakukan fogging mengantisipasi mewabahnya nyamuk demam berdarah, dan juga membantu pemerintah melakukan sosialisasi Protokol Kesehatan (Prokes).

Lantas seperti apa pengertian Prokes bagi dokter Putra Sedana secara non medis? Protokol Kesehatan (Prokes) menurut dokter Putra Sedana atau dokter Caput sangatlah luar biasa. Karena memiliki dua makna yang sudah semestinya diikuti dan dipedomani. Makna secara Medis dan makna secara Non Medis (Pencerahan Jiwa).

“Secara medis kita tahu tujuan dan maknanya, yakni yang pertama adalah Memakai Masker untuk mencegah terjadinya penularan, supaya tidak menularkan dan tidak tertular. Yang kedua Mencuci Tangan untuk membersihkan, agar apa yang kita pegang kemungkinan ada virus yang melekat. Dan yang ketiga Mengatur Jarak, sehingga tidak sampai terjadi kontak.” terangnya.

Tetapi dampak yang lain dibalik Medis atau tujuan Medisnya, ucap dokter Putra Sedana menegaskan terdapat makna secara non medis. Dimana saat ini ‘dipenuhi oleh ujaran-ujaran kebencian, berita-berita hoax’. Jadi secara fibrasi dunia ini ‘kotor’, sehingga Tuhan menghadirkan Virus Corona yang dikenal dengan istilah covid-19.

“Maksudnya adalah untuk membersihkan, maka munculah yang namanya Protokol Kesehatan yang isinya yakni yang pertama Memakai Masker, tujuannya adalah kalau kita lihat Masker menutup Mulut, supaya kita tidaklah lagi berbicara yang tidak-tidak, berupa ujaran kebencian, berita-berita bohong, berita hoax, berbicara secara negatif. Hal ini harus dihentikan. Berbicaralah seperlunya, berbicaralah positif yang bermanfaat. Yang kedua adalah Mencuci Tangan. Tangan adalah alat yang selalu kita pakai untuk melakukan sesuatu. Kita dituntut untuk membersihkan diri, supaya kita bisa melakukan yang bersih. Berhentilah untuk melakukan hal yang tidak baik. Selanjutnya yang ketiga Mengatur Jarak kembali kerumah. Dalam artian kembali kepada diri kita sendiri. Maknanya kembali kepada kita sendiri, kepada siapa? kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk mulat sarira, untuk introspeksi. Dengan melakukan proses mulat sarira introspeksi, bukan lagi menyalahkan ini itu, tetapi memperbaiki kualitas diri dari dalam diri kita yang dimulai dari kita sendiri. Inilah yang saya lihat makna yang luar biasa dari Prokes.” urai Putra Sedana Caput.

Baca Juga :  Hadiri Pujawali , Wabup Patriana Ajak Masyarakat Tetap Disiplin Prokes

Menurutnya, tidak mungkin orang akan mampu mengintrospeksi dirinya sendiri, kalau dia kumpul-kumpul dan rame-rame. Dalam hal ini, harus dia menarik diri, harus dia mengatur jarak, dan harus dia kembali kerumah kedalam dirinya sendiri.

“Astungkara kalau ini bisa dimaknai, dimengerti makna-maknanyai, saya yakin penyakit ini dengan sendirinya akan tidak bisa menyebabkan sakit yang begitu berat untuk diri kita.” jelasnya.

Dikatakan juga bahwa setiap orang yang namanya manusia pasti ada perasaan takut sakit. “Saya sendiri sebagai manusiapun ada rasa takut untuk sakit. Orang berani mati mungkin banyak, tapi berani sakit tidak ada. Namun demikian, dalam kondisi seperti sekarang yang kebetulan saya sebagai seorang dokter, memang harus melayani masyarakat dari sisi kesehatan.” terang Putra Sedana Caput.

“Saya pribadi, terinspirasi dari seorang perawat namanya Bunda Theresa, beliaunya itu melakukan perawatan pasien-pasien penderita Kusta. Dan kita tahu kalau di Bali namanya penyakit ‘Gde’ yang sangat menular sekali, tapi beliau merawat pasien-pasien Kusta ini, dan malahan justru beliaunya tidak tertular. Dan ternyata yang menyebabkan beliaunya tidak tertular, karena berdasarkan kekuatan cinta kasih yang dimilikinya sangat luar biasa.” ujarnya menambahkan.

Dalam pelayanan kemasyarakat untuk kesehatan, ucap Putra Sedana Caput kunci sebenarnya adalah cinta kasih. Cinta kasih ini, akan membentengi diri kita sendiri.

“Dengan terinspirasi cinta kasih, kita turun melakukan kegiatan-kegiatan sosial, khususnya dibidang kesehatan yang didasari atas cinta kasih dan tulus ikhlas. Saya yakin dengan ketulusan cinta kasih yang kita berikan sebagai benteng dasar bagi diri saya sendiri.” tutup Putra Sedana yang aktif sebagai Pengurus DPC PDIP Buleleng, Ketua BMI Buleleng, Ketua FORKI Buleleng dan organisasi lainnya. GS

Baca Juga :  Berlangsung Dramatis, Deni Herio Pimpin PD IWO Merangin

 

Editor : SUT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here