Ilustrasi : Kantor Danantra
Penertiban obligasi berbunga murah 2 persen per tahun, jauh lebih murah dari SHN dengan tingkat bunga 5,8 – 6,1 persen, sudah tentu menimbulkan tanda tanya publik mengapa kelompok usaha papan atas ini mau berinvestasi.
Di sini, perlu transparansi terhadap langkah Danantara ini, untuk menepis prasangka publik berupa dana Rp.50 T bisa saja bagian dari upaya pemutihan modal dari manuver bisnis di masa lalu, terutama berkaitan dengan krisis perbankan tahun 1998 yang melibatkan dana BI sebesar Rp.650 T, yang kemudian menjadi tanggungan pemerintah, yang sampai hari berbentuk obligasi rekap, hutang pemerintah ke BI yang bunganya dibayar pemerintah.
Hanya publik tidak tahu besarnya dana obligasi rekap ini. Pernyataan Menko Ekuin Prof.Dorodjatun Kuntjorojakti sebelum penutupan BPPN menyatakan besar nilai kekayaan BPPN sebelum penutupan Rp.135 T. Apakah nilai obligasi rekap Rp.650 T -/- Rp.135 T = Rp.415 T publik tidak mengetahuinya. Semestinya DPR Komisi XI di era penutupan BPPN mengetahuinya.
Transparansi dan akuntabilitas publik untuk langkah investasi Danantara sangat penting, karena lembaga investasi ini mengelola dana BUMN sumber jumbo, sekitar Rp.16,500 T.
Dana yang sangat besar, hampir 5 kali lipat dari APBN tahun 2025 yang sedang berjalan Rp.3,600 T. Pertumbuhan ekonomi ke depan diperkirakan akan tertekan, tetapi target dari Kabinet Merah Putih sangat tinggi 8 persen.
Transparansi Danantara menjadi begitu penting, untuk menenangkan pasar dan kemudian pelaku pasar di pasar modal dan modal lebih percaya sehingga mereka lebih siap melakukan investasi, di BEJ dan terutama investasi langsung untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja.
Terus naiknya harga emas di dalam negeri, memberikan indikasi, pelaku usaha di dalam negeri masih “wait and see” sebelum melakukan investasi rill. Tantangan besar pemerintah untuk membangun kepercayaan terhadap masyarakat bisnis, melalui program kabinet yang lebih terukur, kredibel dan komunikasi publik yang terjaga. Pesimisme pasar harus diubah menjadi optimisme pasar. Inilah PR besar bagi kepemimpinan Presiden Prabowo.
Penulis : Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.

