Pengamat : Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo, Tinjauan Kepemimpinan Filosofi Jawa

0
497

Balinetizen.com, Jakarta –

 

Presiden Prabowo tidak semestinya memikul beban kepemimpinan masa lalu yang sudah kehilangan pulungnya, membuat kepemimpinan tidak efektif, bebannya terlalu berat, tidak lagi sejalan dengan sasmita baru zaman.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan, Senin 20 Oktober 2025.

Dikatakan, apabila kita menyimak sebut saja “garis merah” kepemimpinan: Prabu Airlangga, Kertha Negara, Gayatri Raja Patni ( putri Kertha Negara bersama dengan patih yang “ditemukannya” Rakryan Gajah Mada, yang secara de facto memimpin Majapahit di era kepemimpinan Raja Sanggrama Wijaya), kepemimpinan pada dasarnya wahyu yang diterima dari Alam Raya, berupa Pulung Kepemimpinan yang “take itu for granted” sebagai basis dasarnya pengembangan kepemimpinan.

Menurut Jro Gde Sudibya, jika Pulung berakhir, sang raja harus meninggalkan kekuasaannya, merujuk pengunduran diri Prabu Airlangga di usia yang tergolong muda 51 tahun.

Dikatakan, Gayatri Rajapatni, punya keyakinan Pulung Ayahnya Prabu Kertha Negara jatuh ke tangan dirinya, sehingga Gayatri punya keberanian nyali besar untuk mengembangkan viveka Kepemimpinan dari suaminya Raden Wijaya (perkawinan dengan motif utama kekuasaan), yang kemudian secara de facto memimpin kerajaan.

Pesan moral dari filosofi kepemimpinan Jawa di atas dalam konteks ke kinian patut dipakai cermin pemerintahan presiden Prabowo Subianto.

Dikatakan, Presiden Prabowo tidak semestinya memikul beban kepemimpinan masa lalu yang sudah kehilangan pulungnya, membuat kepemimpinan tidak efektif, bebannya terlalu berat, tidak lagi sejalan dengan sasmita baru zaman.

Menurut Jro Gde Sudibya, Pemimpin masa lalu yang sudah kehilangan taksunya, kecerdasan dan pengaruhnya, seharusnya tidak lagi “cawe-cawe” karena tidak akan lagi efektif, dan meninggalkan “bintik-bintik hitam” kesejarahan yang memalukan dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Barisan Setia Merah Putih Pimpinan Jro Ray Yusha, Mengutuk Keras Pembakar Bendera Merah Putih

“Secara filosofi Jawa, pemimpin semestinya “ojo dumeh”, jangan mentang-mentang, “menang tan ngasorakke”, menang tanpa yang kalah merasa dikalahkan, bisa merasa, mengerti perasaan dan bertindak dengan rujukan itu. Kearifan Kepemimpinan dengan nuansa kultural yang kaya,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here