Balinetizen.com,Denpasar-
Konsultan Ekonomi dan Penanganan Krisis Gede Sudibya mengatakan, Crisis Center menjadi hal mutlak harus dibuat di masing masing kabupaten dan kota di Bali dalam upaya mengantisipasi dampak Covid-19 yang melanda dunia pada umumnya dan Bali pada khususnya.
Hal tersebut dikatakan Gede Sudibya dalam menanggapi dampak Covid-19 yang telah dirancang dan dibuatkan program/skema penanganan pasca Covid-19 oleh Pemprov Bal, Jumat (24/4/2020).
I Gde Sudibya yang berpengalaman lebih dari 25 tahun sebagai konsultan ekonomi dan manajemen, termasuk manajemen krisis pada sejumlah perusahaan di Bali mendorong Gubernur Bali Wayan Koster memiliki program terobosan yang lebih terhitung dan terukur dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Dikatakan, program mendesak dan segera dibuat adalah Tim Penanggulangan Pandemi Covid-19 Provinsi Bali terutama dalam menghadapi puncak pandemi yang diperkirakan terjadi padsa pertengahan Mei 2020.
Menurut Gede Sudibya, pembentukan crisis center dan media center, selambat-lambatnya telah terbentuk 1 Mei 2020. Crisis center ini menjadi wadah atau lembaga yang koordinatif di tengah tumpukan permasalahan yang memerlukan keputusan segera dan tindak lanjutnya.
Dikatakan, media center ini diharapkan mampu mengomunikasikan kepada publik secara real time, progress kejadian dan solusinya. Memastikan seluruh sumber daya kesehatan telah siap merespons krisis. Memperhitungkan tenaga medis, peralatan kesehatan, obat-obatan, sistem rumah sakit yang terpadu secara keseluruhan.
Dikatakan, SOP yang sangat ketat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menjamin keselamatan, distribusi waktu kerja, motivasi dan daya tahan mentalnya.
“Mereka para tenaga kesehatan ini adalah para tentara dan pejuang kita di garis depan “pertempuran ” kata Gede Sudibya.
Oleh karena itu, kata Gede Sudibya dalam manajemen krisis, data adalah sakral ( sacred data ), artinya data mesti sangat akurat sebagai dasar pengambilan keputusan cepat dan cerdas.
Gede Sudibya mencontohkan data jumlah krama yang positif Covid-19, ODP, dan PDP per banjar, per desa, cakupan test di daerah ” merah ” dan hasilnya harus jelas terdata dan tercatat.
Dikatakan, crisis center ini juga menerima dan mengelola hasil Tracing ( penelusuran ) cepat dalam jumlah yang relatif banyak melalui rapid rest di wilayah-wilayah yang secara epidemis beresiko tinggi dan tindak lanjutnya: karantina mandiri, langkah pengobatan sesuai protokol pengobatan dan penyelamatan yang berlaku.
Dilakukan pelaporan seluruh kegiatan di media center secara cerdas dan penuh empati, datanya obyektif, sehingga krama menjadi mengerti duduk permasalahannya, perkembangan yang berlangsung, dari pihak otoritas, menghindari kesimpang-siuran berita dan hoax, menenangkan krama, dan tempat krama ” mesayuban ” di tengah ketidakpastian yang berlangsung.
“Sekarang waktunya krama Bali jengah untuk nindihin gumi, di tengah pekebeh sane rawuh, mengembangkan ethos kerja yang telah terbukti tangguh menghadapi tantangan zaman,” kata Gede Sudibya.
Menurut Sudibya seluruh krama Bali yang berada di bawah desa dan bamjar adat harus bersatu melawan Covid-19. Krama Bali harus kuat menghadapi wabah virus Corona ini. Krama Bali harus berterima kasih kepada alam Bali, adat istiadat dan kesenian serta agama Hindu di mana dalam waktu sebelumnya sebagian krama Bali, telah menikmati limpahan rejeki dan kemakmuran selama 50 tahun dari kemajuan pariwisata.
Untuk urusan penanganan Covid-19, kata Gede Sudibya dananya sudah disiapkan oleh Pemprov Bali Rp 756 milyar. Tinggal sekarang perlu pengawasan yang ketat dan tepat sehingga benar benar tepat sasaran dan dana stimulus tersebut menyentuh bagi masyarakat yang membutuhkan.

