Balinetizen.com, Jakarta –
Perang di Timur Tengah telah berdampak nyata terhadap pasokan minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap harga BBM dalam negeri di banyak negara.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi dan kecenderungan masa depan, Kamis 26 Maret 2026.
Dikatakan, pasokan minyak mentah dunia yang diproduksikan di negara-negara Timur Tengah melalui Selat Hormuz sekitar 20%. Indonesia yang mengimpor minyak mentah 1,6 juta barel per hari, 19 persen melewati selat ini.
Menurut Jro Gde Sudibya, Negara Eropa dan juga China mempunyai ketergantungan tinggi dari impor LNG yang berasal dari Qatar dan negara sekitarnya. Ketersediaan energi yang melewati Selat Hormuz telah “mencekik” ekonomi dunia.
Menurut Kompas (25/3/2026), sejumlah negara telah mengambil ancang-ancang dalam merespons kelangkaan minyak dan kenaikan harga BBM dalam negeri.
Dikatakan, langkah sejumlah negara, Thailand, menganjurkan pegawai negeri bekerja dari rumah, membatasi penggunaan penyejuk ruangan di kantor pemerintah, membatasi perjalanan luar negeri dari pejabat pemerintah.
Begitu juga Filipina, memperlakukan empat hari kerja dalam satu minggu, mengurangi konsumsi BBM dan Listrik semua lembaga pemerintah sebanyak 10 – 20 persen.
Sementara Mesir, menaikkan harga BBM secara bertahap sampai 30 persen. India, memperketat pengendalian gas alam dan gas masak, mengurangi subsidi energi.
Filipina telah mengumumkan Darurat Energi karena Perang di Timur Tengah , Slovania telah melakukan pembatasan pembelian BBM, Australia mengalami permintaan lonjakan permintaan BBM dan mulai khawatir terhadap kontinuitas pasokan BBM dari Singapura.
Menurut Jro Gde Sudibya, Ekonomi dunia akan memasuki masa sulit karena kelangkaan energi dan kenaikan harga BBM di dalam negeri yang memicu inflasi dan mengarah ke stagflasi.
Dikatakan, pernyataan sejumlah negara, seperti Perancis, Inggris dan juga Australia untuk mengirimkan kekuatan militernya ke kawasan Timur Tengah merujuk Kesepakatan Kerja Sama Militer dengan sejumlah negara di Kawasan Teluk, kemungkinan terjadinya konflik bersenjata antara AS, Israel, Perancis, Inggris, Australia dan negara-negara Kawasan Teluk dengan Iran di Selat Hormuz menjadi pemicu -casus belli- Perang Dunia Ketiga.
Oleh karena itu, lanjut Jro Gde Sudibya Perang Dunia yang dipicu oleh perebutan energi dunia yang melewati Selat Hormuz.
Bagaimana kesiapan Indonesia Menghadapi Kondisi Terburuk?
Menurutnya, kelangkaan BBM dan kenaikan tinggi harga BBM yang memicu inflasi dan kemudian stagflasi. Kondisi ini bisa memicu kelangkaan pangan dengan risiko terjadinya kekurangan pangan dan bahkan kelaparan.
Dikatakan, daya beli masyarakat yang terus merosot, akibat PHK, 60 persen pekerja ada di sektor informal, 10 juta kelas menengah dalam 5 tahun terakhir telah “tersungkur” status sosialnya, “social distrust” terhadap tiga cabang kekuasaan: eksekutif, legislatif dan yudikatif bisa meluncur ke titik nadirnya,punya potensi memicu lahirnya gerakan “people power”.
“Semua ini adalah tantangan Kritis Kepemimpinan Presiden Prabowo, secara eksternal dihadapkan potensi risiko Perang Dunia Ketiga, secara internal ada risiko ledakan sosial berupa “people power”,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

