Balinetizen.com, Buleleng
Perkembangan terkini proses hukum pengusutan ‘’Insiden NYEPI Sumberkelampok’’, pihak
penyidik Polres Buleleng mem-BAP-kan Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Bali pada Sabtu, (10/6/2023).
Dalam hal ini, penyidik Polres Buleleng memeriksa Ketua Pimpinan Daerah KMHDI Provinsi Bali, Putu Esa Purwita, terkait peristiwa yang dikenal sebagai ‘’insiden Nyepi Sumberkelampok’’, berupa peristiwa penerobosan dan pembukaan paksa portal di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, tepatnya pada hari suci Nyepi Isaka 1945, pada 22 Maret 2023 lalu. Dimana video pembukaan paksa portal TNBB di Sumberkelampok tersebut, viral di media sosial sampai akhirnya Polres Buleleng memeriksa sejumlah terduga pelaku. Terduga pelaku yang belakangan diketahui kena wajib lapor di Polres Buleleng.
Saat memberikan keterangan, Ketua Pimpinan Daerah KMHDI Bali didampingi Tim Hukum PHDI Bali, Putu Wirata Dwikora, SH, Mk. Pasek Wayan Sukayasa,ST, SH, M.I.Kom Ketut Artana, SH, MH, Agung Kesumajaya, SH, MH dan Nyoman Sunarta, SH.
Sementara Ketua PHDI Provinsi Bali, Nyoman Kenak, SH, menyerahkan Rekomendasi Paruman PHDI Provinsi Bali, tertanggal 5 Juni 2023, yang menegaskan bahwa peristiwa 22 Maret 2023 tersebut sudah masuk penistaan hari suci Nyepi, hal ini berdasarkan arahan Dharma Upapati PHDI Bali dan masukan dari Paruman Walaka dan Pengurus Harian PHDI Provinsi Bali.
Tim Hukum PHDI Bali, Wayan Sukayasa, Agung Kesumajaya dan Ketut Artana menjelaskan penyidik sudah memeriksa beberapa Saksi dan Ahli, diantaranya Nyoman Kenak, SH, I Made Suastika Ekasana, SH, M.Ag, dan beberapa Saksi, termasuk pelapor. Dan pada Sabtu, (10/6/2823) ini, memeriksa Putu Esa Purwita.
‘’Dari keterangan beberapa saksi, termasuk Ketua Pimpinan Daerah KMHDI Bali, perbuatan pelaku pada hari suci Nyepi 22 Maret 2023, sudah masuk pada pelanggaran dan penodaan agama sebagaimana diatur dalam KUHP.,” ujarnya.
Iapun menegaskan apalagi sudah ada rekomendasi PHDI Bali tanggal 5 Juni 2023, yang berdasarkan arahan Dharma Upapati PHDI Bali, bahwa peristiwa pembukaan paksa portal TNBB pada hari suci Nyepi 22 Maret 2023 tersebut merupakan penodaan terhadap hari suci Nyepi, yang merupakan hari suci agama Hindu.
“Dalam hal ini juga, sudah ada Seruan Bersama Majelis-majelis Agama dan Lembaga Sosial Keagamaan tentang Hari Suci Nyepi, yang selain ditandatangani oleh Ketua-ketua Majelis semua agama yang diakui di Indonesia, juga ada tandatangan pejabat seperti Gubernur Bali I Wayan Koster, Kapolda Bali, Danrem 169/Wirasatya,’’ imbuh Wayan Sukayasa dan Ketut Artana.
Jadi, ucapnya menegaskan lagi, tentunya dengan adanya tandatangan para Ketua Majelis Agama dan pejabat penting seperti Gubernur Bali, Seruan Bersama tanggal 13 Maret 2023 tersebut, mengikat semua orang yang berada di Bali pada hari suci Nyepi 22 Maret 2023. Dan setiap pelanggaran yang terjadi dan dilaporkan ke penegak hukum, wajib untuk diproses sesuai mekanisme yang berlaku.
‘’Para Saksi dan tokoh Hindu yang ada di Bali sangat mendukung proses hukum yang dilakukan Kepolisian, agar pelecehan dan penodaan agama Hindu tidak berulang-ulang terjadi, tanpa adanya penegakan hukum. Apalagi, setelah peristiwa 22 Maret 2023 tersebut, baru-baru ini terjadi lagi penodaan agama Hindu, berupa orang yang naik di Padmasana di sebuah Pura di Kalimantan Tengah, dan juga sudah dilaporkan ke kepolisian,’’ tutup Agung Kesumajaya. GS

