Perkuat Konservasi, 32 Kelompok Pelestari Penyu Bentuk Asosiasi

0
367

 

Balinetizen.com, Jembrana

 

Upaya pelestarian penyu di Bali memasuki babak baru. Sebanyak 32 kelompok pelestari penyu se Bali bersatu membentuk Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali (AKPPB). Melalui asosiasi ini diharapkan menjadi solusi penguatan kapasitas dan standarisasi konservasi penyu.

Peresmian AKPPB oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Ratna Hendratmoko. dilaksanakan di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana tepatnya di lokasi Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Kurma Asih, Selasa (11/11/2025).

Wakil Ketua AKPPB, I Wayan Anom Astika, didampingi Ketua Pengelola Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu Serangan, Made Sukanta, menjelaskan bahwa pembentukan asosiasi lahir dari kebutuhan mendesak.

“Selama ini kan kita jalan sendiri-sendiri. Dengan adanya asosiasi ini, tujuannya adalah penguatan kapasitas kita, ada bargaining position lah,” ujar Anom Astika.

Menurutnya, tujuan utama dari konsolidasi 32 kelompok adalah untuk menyatukan persepsi dan Standard Operating Procedure (SOP) konservasi. Sementara di Jembrana terdapat 5 kelompok pelestari penyu yakni di Desa Candikusuma, Tuwed, Pengambengan, Perancak, dan Desa Pekutatan.

“Dalam konservasi ini jangan sampai kita jalannya beda-beda, padahal SOP-nya sama. Karena ini adalah perlakuan untuk satwa yang dilindungi,” tegas Anom sembari mencontohkan pentingnya kesamaan prosedur dalam pelepasan tukik dan penanganan di kolam penampungan.

Selain penguatan internal dan finansial melalui support bersama dari berbagai pihak, AKPPB juga bertekad meningkatkan upaya pencegahan perburuan liar dan penyelundupan penyu yang masih marak terjadi, khususnya di pesisir Jembrana.

Anom Astika menjelaskan bahwa pendekatan utama asosiasi saat ini adalah penyadaran, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Kalau penegakan hukum itu bukan domain kami. Tetapi yang jelas, kita mencegah itu lebih baik dengan cara edukasi bahwa melestarikan penyu itu bisa menghasilkan sesuatu sebagai alternatif ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga :  Jokowi minta waspadai klaster perkantoran, keluarga dan Pilkada

Ia mengakui bahwa konservasi adalah proses jangka panjang yang memerlukan kesabaran dan kesadaran kolektif. Metode edukasi, seperti melibatkan anak-anak untuk mengenal penyu, memindahkan sarang, hingga melepas tukik dan membersihkan pantai, dinilai menjadi cara efektif untuk membangun kesadaran lingkungan secara luas.

“Ini adalah proses dan memerlukan jangka panjang untuk membangun kesadaran, ini tugas kita bersama-sama. Harapan kami, penyu semakin lestari dan pemburuan liar menjadi berkurang, karena penyu ini milik kita dan kita harus melindungi,” tandasnya.

Sementara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Ratna Hendratmoko yang juga pencetus AKPPB mengatakan, penyu merupakan satwa yang dilindungi undang undang. Dan apabila ada aktifitas terhadap satwa yang dilindungi, tanpa ijin dan tanpa ada kerjasama, mereka berpotensi untuk melakukan kegiatan ilegal.

“32 kelompok pelestari penyu itu telah bekerjasama dengan BKSDA Bali agar mereka mendapatkan legalitas dalam melaksanakan aktifitas konservasi penyu,” jelasnya.

Selain legalitas, kata dia, kelompok ini bisa saling berbagi ilmu, saling support dan saling menguatkan satu sama lain.
“Contoh, ada salah satu kelompok pelestari dari Karangasem over load (kebanyakan) tukik, sekitar 7.000 tukik. Karena kewalahan akhirnya tukik itu ditransfer ke kelompok (KPP) lain untuk dibesarkan. Saya kira ini sangat bagus,” ungkapnya.

Selain kebersamaan, ia berharap asosiasi ini mampu menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian penyu dan ikut menjaga serta mengawasi peredaran ilegal atau penyelundupan penyu.

“Dengan kesadaran bersama masyarakat Bali ikut menjaga mengawasi peredaran satwa ilegal penyu, terutama untuk yang konsumsi. Ini juga bagian dari tugas asosiasi tersebut,” pungkasnya. (Komang Tole)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here