Oleh I Ketut Puspa Adnyana
“Om Hyang Paramakawi, Sumber Kehidupan, sujud hamba di kaki padamMu”. Kehidupan ini dapat dilihat dari dua perspektif: perpsepektif duka-lara atau perspsektif riang – gembira. Terserah yang melakoni hidup. Namun demikian, duka dan gembira adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan seperti siang dan malam atau laki dan perempuan. Keberadaannya saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain. Ini disebut dualitas atau rwa bhineda dalam Hindu yang tidak dapat dipisahkan. Kehidupan sekarang juga terhubung dengan kehidupan yang akan datang (karmawasana).
Kali ini, dhanam (harta kekayaan) perlu menjadi bahasan karena dalam ajaran Hindu, dana punia (pemberian secara iklas, kedermawanan) dipandang sebagai penyempurna semua perbuatan atau yajna.
Bhagawad Gita pada Bab XVIII disebutkan ada tiga perbuatan yang tidak boleh ditinggalkan manusia bila ingin meningkatkan spiritualitas, yaitu: (1) tapasya, (2) dhanam dan (3) yajna. Ketiganya saling memberikan dukungan. Tapasya dan yajna akan diulas pada kesempatan lain, kali ini dhanam (harta kekayaan, manfaat dan cara).
Dhanam baik dalam Bhagawad Gita maupun dalam Srimad Bhagawatham, dalam Sarasamuscaya, dalam Dharmasastra, mengandung arti yang cukup beragam. Dhanam dapat diartikan: kekayaan, harta benda, keuntungan dari kekayaan, dan lainnya. Secara umum dhanam diartikan harta kekayaan. Dhana merupakan salah satu dari bagain Sapta Timira, yaitu: surupa, dhanam, guna,kulina, yowana, kasuran, dan sura.
Dalam Bhagawad Gita XVI.13-15 disebutkan:
idam adya mayā labdham, imaṁ prāpsye manoratham
idam astīdam api me, bhaviṣyati punar dhanam,
Terjemahan: “Mereka selalu berikhtiar: “Hari ini aku sudah berhasil, besok lebih berhasil lagi. Hari ini sekian banyak hartaku, besok bertambah lagi.’” (BG.XVI.13)
āḍhyo ‘bhijanavān asmi, ko ‘nyo ‘sti sadṛśo mayā, yakṣye dāsyāmi modiṣya, ity ajñāna-vimohitāḥ
Terjamahan: “Aku kaya, aku berasal dari keluarga besar. Siapa yang dapat menandingi diriku? Aku rajin sembahyang dan berderma. Aku selalu senang.” (BG.XVI.15)
Dalam memperoleh harta kekayaan harus berdasarkan dharma (kebenaran, Catur Purusartha). Dalam niti sastra disebutkan “Dharmasya Moolam Arthah”, harta kekayaan harus diperoleh dengan cara yang benar. Tentu saja ini merupakan standar moral, etika yang ideal.
Dalam kenyataan hidup terutama dalam aktivitas kegiatan usaha apa saja (swadharma), sering kondisi ideal tidak dapat dilaksanakan sehingga kecurangan, kebohongan dan lainnya sengaja diciptakan untuk memperoleh keuntungan.
Terkait dhanam, karena itu dalam pustaka suci dianjurkan melakukan dana punya (pemberian secara iklas, kedermawanan). Dana punya ini menyucikan akibat perbuatan buruk (asubakarma) dari perolehan harta kekayaan tersebut. Orang orang yang beruntung memiliki harta kekayaan melimpah seharusnya memperoleh kesempatan yang baik untuk melakukan investasi spiritual, dengan kedermawanan (sadu, satwam).
Orang orang terpelajar yang harta kekayaannya melimpah mempunyai kesempatan menjadi “Orang arif bijaksana dan dermawan”, sebuah investasi spiritual yang tinggi pada zaman KALIYUGA.
Dalam Rgweda disebutkan “ Carilah harta kekayaan dengan 100 tangan dan dermakan harta kekayaan dengan 1000 tangan”. Sungguh luar biasa mereka yang berhasil menjadi seseorang yang “Arif Bijaksana dan Dermawan”. Inilah manusia utama dalam zaman Kaliyuga.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Om santih santih santih Om.🌸🌸🌸

