Balinetizen.com, DenpasarÂ
Kepolisian Daerah (Polda) Bali menggelar Operasi Ketupat Agung 2026 sebagai langkah pengamanan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah yang pada tahun ini berlangsung dalam waktu berdekatan.
Operasi kemanusiaan tersebut dilaksanakan selama 12 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026, dengan melibatkan ribuan personel gabungan dari Polri, TNI, serta instansi terkait.
Pengamanan difokuskan pada seluruh rangkaian kegiatan keagamaan, mulai dari ibadah puasa, malam takbiran, salat Idul Fitri, arus mudik dan arus balik, hingga rangkaian perayaan Nyepi seperti Melasti, pawai ogoh-ogoh, pengerupukan (Tawur Kesanga), dan Ngembak Geni.
Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya menjelaskan, sebanyak 2.125 personel Polri dari Polda Bali dan jajaran Polres/Polresta dikerahkan dalam operasi ini. Mereka akan disebar di berbagai wilayah strategis untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusif selama dua perayaan besar tersebut.
Selain itu, sekitar 1.271 personel dari instansi terkait juga dilibatkan dalam pengamanan, di antaranya dari Dishub, Satpol PP, Basarnas, PMI, BPBD, Damkar, Dinas Kesehatan, Pecalang, hingga berbagai organisasi masyarakat.
Dalam Operasi Ketupat Agung 2026, aparat keamanan akan mengamankan:
256 Masjid
539 Mushola
276 lokasi Salat Idul Fitri
Selain tempat ibadah, pengamanan juga difokuskan pada sejumlah objek vital seperti:
Bandara : 1 lokasi
Pelabuhan : 8 lokasi
Terminal : 11 lokasi
Objek wisata : 77 lokasi
Pasar tradisional : 59 lokasi
Pasar modern : 7 lokasi
Untuk mendukung kelancaran pengamanan, Polda Bali juga mendirikan 26 pos pengamanan dan pelayanan, yang terdiri dari:
Pos Pengamanan (15 Pos)
Masjid : 3 pos
Tempat wisata : 5 pos
Pusat perbelanjaan : 1 pos
Jalur mudik : 6 pos
Pos Pelayanan (6 Pos)
Masjid : 1 pos
Terminal : 3 pos
Jalur mudik : 2 pos
Pos Terpadu (5 Pos)
Bandara : 1 pos
Pelabuhan : 3 pos
Jalur mudik : 1 pos
Tahun ini terdapat potensi kepadatan lalu lintas karena puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 17–18 Maret 2026, yang berdekatan dengan Upacara Tawur Kesanga atau Pengerupukan pada 18 Maret.
Pada hari tersebut, banyak desa di Bali menggelar ritual di catus pata (perempatan desa) serta menempatkan ogoh-ogoh di sepanjang jalan untuk persiapan pawai.
Untuk mengantisipasi kemacetan, Polda Bali melakukan sejumlah langkah, antara lain:
Koordinasi dengan aparat desa, tokoh adat, dan pemuda terkait penempatan ogoh-ogoh.
Pengawalan upacara Tawur Kesanga oleh Bhabinkamtibmas di wilayah desa.
Imbauan kepada masyarakat agar tidak menempatkan ogoh-ogoh di jalur utama mudik menuju Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Padangbai.
Pemerintah Provinsi Bali bersama unsur keamanan juga mengeluarkan seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi dan malam takbiran.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa
Hari Raya Nyepi dilaksanakan dengan penuh khidmat mulai 19 Maret 2026 pukul 06.00 WITA hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA, dengan penghentian aktivitas umum seperti transportasi, siaran, dan kegiatan di luar rumah.
Takbiran Idul Fitri dilaksanakan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki tanpa pawai kendaraan, tanpa petasan, dan tanpa penggunaan pengeras suara berlebihan, pada pukul 18.00–21.00 WITA.
Seruan ini menekankan pentingnya toleransi dan moderasi beragama, serta sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, desa adat, dan tokoh agama dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Selain Operasi Ketupat Agung, Polda Bali juga menyiagakan Operasi Aman Nusa Agung II 2026 untuk penanganan darurat bencana di wilayah Bali.
Sebanyak 350 personel dari Satgas Polda Bali disiagakan untuk melakukan pencarian, pertolongan, evakuasi korban, hingga penanganan identifikasi korban bencana (DVI) apabila terjadi situasi darurat.
Masyarakat juga dapat melaporkan kejadian darurat atau bencana melalui call center BPBD dan posko Satbrimob Polda Bali, yang terhubung dengan Basarnas serta instansi SAR lainnya guna mempercepat penanganan di lapangan.
Dengan sinergi lintas instansi ini, diharapkan pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri di Bali tahun 2026 dapat berlangsung aman, lancar, dan penuh toleransi.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

