Produksi Karet 6–7 Ton per Hari, Kebun Glantangan Optimalkan Saat Cuaca Mendukung

0
220

Asisten Kepala Kebun Glantangan, Agung Wisnu

Balinetizen.com, Jember

Curah hujan dan cuaca yang tidak menentu di awal tahun ini memang berpengaruh terhadap produksi karet di lapangan. Namun, pihak Kebun Glantangan tetap berupaya mengoptimalkan hasil panen agar target produksi tetap tercapai.

Asisten Kepala Kebun Glantangan, Agung Wisnu, menjelaskan bahwa hujan sangat mempengaruhi proses penyadapan karet, terutama jika turun pada jam kerja para pekerja di kebun. 8 Maret 2026.

“Kalau curah hujan memang berpengaruh, terutama ketika turunnya pada saat jam kerja di lapangan. Namun jika hujan turun siang hari, pagi atau subuh para pekerja masih bisa melakukan penyadapan sehingga produksi tetap berjalan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mengatasi penurunan produksi akibat hujan, pihak kebun melakukan optimalisasi pada hari-hari ketika cuaca cerah. Dengan cara tersebut, rata-rata produksi masih dapat mendekati target yang telah ditetapkan.

“Ketika ada hari yang tidak hujan, produksi kita maksimalkan sebagai pengganti hari sebelumnya yang terpengaruh hujan. Jadi secara rata-rata tidak jauh dari target,” jelasnya.

Ia menyebutkan, memasuki awal Maret ini kondisi cuaca mulai lebih mendukung aktivitas para pekerja di kebun. Hal ini membuat produksi karet kembali meningkat.

“Alhamdulillah pada tanggal 7 sampai 8 Maret cuaca sudah mulai mendukung teman-teman di lapangan, sehingga produksi bisa dimaksimalkan dan tidak terlalu berpengaruh signifikan,” katanya.

Selain mempengaruhi produksi, curah hujan juga dapat berdampak pada kualitas bahan baku karet. Meski begitu, pihak kebun tetap berupaya menjaga mutu hasil produksi agar tetap sesuai standar.

“Kualitas bahan baku memang bisa terpengaruh hujan, tapi tetap kita siasati dengan memaksimalkan produksi saat cuaca baik. Alhamdulillah mutu karet di Kebun Glantangan masih masuk kategori high grade sesuai target,” ungkapnya.

Baca Juga :  Trump: Tidak Ada Pelonggaran Sanksi untuk Iran

Saat ini, produksi karet di Kebun Glantangan rata-rata mencapai 6 hingga 7 ton per hari dari total luasan kebun sekitar 1.600 hektare. Produksi tersebut dipengaruhi oleh kondisi tanaman yang memiliki usia berbeda-beda.

“Karena umur tanaman tidak sama, ada yang sudah tua dan ada yang masih muda, sehingga itu yang kita optimalkan dalam pengelolaan produksi,” tambahnya.

Sementara itu, terkait harga karet, Agung menjelaskan bahwa harga komoditas tersebut sangat bergantung pada kondisi pasar global. Harga karet dapat naik maupun turun tergantung berbagai faktor.

“Harga karet ini fluktuatif karena mengikuti pasar dunia. Dipengaruhi kondisi geopolitik, permintaan industri, dan juga persaingan dengan karet sintetis yang berkaitan dengan harga minyak bumi,” jelasnya.

Selain itu, pihak kebun juga terus melakukan upaya pengamanan produksi dengan rutin patroli keamanan, agar hasil produksi selalu terjaga dan tetap maksimal. (Bam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here