R(20), Momentum Revitalisasi Sikap Inklusif yang Diteladankan Gus Dur

0
195

Balinetizen.com, Denpasar

Rencana besok, 2 November 2022 R(20) Religion 20, pertemuan pemimpin agama negara-negara anggota G 20 akan dibuka di Nusa Dua, Bali. Salah seorang penggagas pertemuan dan sekaligus selaku salah satu tuan rumah pertemuan yang mewakili Indonesia KH Yahya Cholil Staquf ( Gus Yahya ), Ketua Umum PBNU, yang juga merupakan anggota Dewan Penasehat Presiden.

Sebagai kader Gus Dur, disampaikannya berkali-kali dalam banyak kesempatan, dan bahkan dalam wawancaranya dengan Kompas pasca pelantikan sebagai Ketua Umum PBNU, secara tegas menyatakan program PBNU ke depan salah satunya lebih mensosialisasikan pemikiran-pemikiran Gus Dur dalam dinamika kehidupan berbangsa.
Sebagai Gusdurian ( pengikut Gus Dur ), semestinya R(20) ini dipergunakan oleh Gus Yahya untuk merevitalisasi pemikiran-pemikiran Gus Dur yang telah mendunia.

Sikap keagamaan inklusif: merangkul, menerima perbedaan, melakukan dialog berkelanjutan dengan suka cita diselingi humor (khas Gus Dur), semestinya terus dikembangkan dalam dialog antar iman, bagi insan-insan manusia yang berbeda keyakinan, seperti yang diteladankan Gus Dur. Bagi Gus Dur perbedaan keyakinan bukanlah beban, tetapi perbedaan yang harus disyukuri, “dirayakan” melalui dialog tanpa henti, kerja sama lintas iman, untuk peningkatan kesejahteraan bersama dan penghargaan terhadap kemanusiaan. Gus Dur di era tahun 1980’an dan 1990’an sebagai Ketua Forum Demokrasi berbeda banyak dengan sikap pemerintah, dan juga organisasi agama lainnya, tetapi kritiknya terukur, santun, respek pada para senior dan selalu menekankan dialog untuk menjembatani perbedaan. Jika membahas kemiskinan di negeri ini, kalimatnya sedikit meninggi dengan mengatakan “jika bangsa ini banyak miskin, sudah pasti sebagian besar adalah warga NU”, tetapi beliau tetap menyampaikan kritik terukur, sekaligus menggambarkan sikap inklusif dan kemudian sikap ngemong buat bangsanya.

Baca Juga :  Update Penanggulangan Covid-19, Rabu, 28 Oktober 2020

Dalam banyak diskusi di era tahun 1980’an -1990’an, banyak pertanyaan provokatif sebagian dari mahasiswa, yang mengharapahkan jawaban dari Gus Dur untuk membuat pernyataan keras terhadap kepemimpinan Pak Harto, jawaban beliau tetap tenang terukur, tetapi sangat cerdas dan visioner, tanpa ada tanda-tanda marah dalam nada suara dan juga gesture. Sebagaimana pengakuannya, Gus Dur adalah Gandhian ( pengikut Gandhi), mengikuti Ahimsa ( politik emoh kekerasan) dan Dharma ( kebenaran).
Gus Dur sangat mengagumi Gandhi tentang (dalam bahasa Gus Dur), Self Control ( Pengendalian diri), Self Help (Mandiri), Self Suffiency (Kehidupan Bersahaja).

Sudah semestinya spirit Gus Dur hadir dalam ruang-ruang pertemuan R(20) besok di Nusa Dua, sekaligus memberikan pesan dari Bali ( Bumi Nusantara), sikap toleransi, kesejukan dan bahkan perdamaian bagi dunia, melalui R(20) dan KTT G 20.

Jro Gde Sudbya, bersama Gus Dur tercatat sebagai anggota kehormatan Gandhi Ashram (sekarang Gedong Gandhi Ashram), Canti Dasa, Canti Dasa, Karangasem, Bali, di dasa warsa awal tahun1990’an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here