Balinetizen.com, Buleleng –
Upakara bhakti piodalan Purnama Kapat nemu raina Coma Tolu, 6 Oktober 2025 sedang berlangsung hari-hari ini di Bali.
Ketulusan, kegembiraan dan kesemarakan upakara bhakti, membuat bhakti menjadi “metaksu”, “pinunas” bhakti Tarpana terpenuhi, memberikan vibrasi ketenangan pikiran, ketentraman batin, kesucian hati dan kemudian pembangkitan spirit diri.
Ketulusan bhakti yang menstimulasi pembebasan diri MAHARDIKA, pembebasan dan kemudian kebebasan dari kecenderungan kuat keakuan diri , ahamkara dari kekuatan negatif dan bahkan destruktif dari: keinginan berlebih, keserakahan tanpa batas, rasa iri dengki, ekspresi dari sad ripu (6 musuh dalam diri)dan sapta timira (7 kegelapan dalam diri).
Ketulusan bhakti, “nuking tuwas” dengan pamrih rendah, menjadi begitu penting di tengah fenomena, upakara dengan kecenderungan menjadi “industri”, sarat motif keuntungan, dengan bobot kesucian dan spirit yang nyaris meluncur ke titik nadir. Upakara yang di sana-sini nyaris kehilangan “taksu”nya, membuat masyarakat penyangga upakara tidak bergeming batinnya, “jalan di tempat”, nyaris kehilangan makna sebagai transformasi rokhani. Tidak salah, jika ada bagian masyarakat bicara pemborosan sumber daya.
Tantangan untuk menumbuhkembangkan upakara-bhakti yang tulus. mentransformasi batin manusia, bebas dari prilaku negatif di atas.
Prilaku manusia merdeka, insan manusia Mahardika sangat diperlukan bagi penyelamatan Bali kini, terlebih-lebih di masa depan.
Manusia Mahardika yang punya komitment kuat dalam penyelamatan lingkungan Bali yang sekarang mengalami darurat lingkungan, pasca banjir bandang 10 September 2025, yang membuka kotak pandora tsb.
Manusia Mahardika, terlebih-lebih bagi elite penguasa yang dengan rendah hati mengakui terjadinya darurat lingkungan, menyusun program jalan keluar penyelamatan lingkungan Bali, bukan sekadar membangun proyek mercu suar, sebagai program mengejar “setoran”.
“Ayuning” dewasa Purnama Kapat, semestinya membuat tuan-puan penguasa dan juga stake holders industri pariwisata, sebagai momentum metata ulang diri, berhenti destruktif terhadap Alam Bali, yang merugikan alam Bali, dimana Anda ikut menjadi bagian penghuninya.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit Bali Utara.

