Refleksi 77 tahun Puputan Margarana : Spirit Para Pejuang Hilang, Diganti “Tirani”

0
230

Ilustrasi : Puputan Margarana, Perlawanan Sampai Mati Rakyat Bali Mengusir Belanda

Balinetizen.com, Denpasar

Menyimak prilaku penguasa dalam satu dasa warsa terakhir, yang mecapai puncaknya dan komplikasi politik yang dibawakannya, pasca “pembajakan” konstitusi di MK yang meloloskan Gibran maju menjadi Cawapres yang mendampingi Prabowo, seakan-akan membenarkan thesis sejarahwan ternama Inggris Lord Ancton: “power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. Kekuasaan punya kecendrungan salah guna (korupsi), kekuasaan absolut melahirkan korupsi yang absulut pula.

Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pembelajar sejarah bangsanya, Minggu 19 November 2023 menanggapi prilaku pemimpin bangsa akhir akhir ini.

Menurutnya, realitas pemimpin yang cenderung korup dan tirani bagi rakyat inilah yang harus dilawan oleh kekuatan dan gerakan rakyat yang mendambakan terwujudnya cita-cita reformasi, kecintaan kepada demokrasi yang tegak lurus dengan demokrasi.

“Peristiwa politik yang berlangsung saat ini bukanlah peristiwa biasa, yang mesti direspons dengan cara biasa. Tetapi ini peristiwa yang luar biasa yang harus direspons dengan cara luar biasa. Istilahnya: “etra ordinary events against extra ordinary actions”,” kata I Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pembelajar sejarah bangsanya.

Dicontohkan, menyimak disertasi Arief Budiman di Universitas Harvard tentang otoritarianisme di Chile (pernah diulas oleh ybs.di media arus utama Ibu Kota), diperlukan waktu 35 tahun, lebih dari 3 generasi (jika ukuran 1 generasi 10 tahun) untuk mengembalikan demokrasi dengan cengkraman otoriantarianisme.

Oleh karena itu, lanjut Gde Sudibya Indonesia Emas tahun 2045 harus diselamatkan melalui perjuangan rakyat bahu membahu bergotong royong dengan dedikasi penuh buat penyelamatan negeri.

“Mengambil hikmah-pelajaran dari peristiwa Puputan Margarana 77 tahun yang lalu, disesuaikan konteks ke kinian untuk menjawab tantangan masa kini dan membangun harapan bersama untuk masa depan,” katanya.

Baca Juga :  Polres Karangasem Terjunkan Puluhan Polwan Bantu Kegiatan Dapur Umum di Padangkerta

Memaknai Puputan Margarana

Dalam konteks Bali, katanya spirit dalam pertempuran PUPUTAN Margarana yang heriok itu, yang memberikan kebanggaan bagi rakyat Bali, sikap MEMBERI yang maha luar biasa bagi putera-putri terbaik bangsa yang gugur di medan laga. Memberi ke Ibu Pertiwi secara total, sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini JIWA DAN RAGA.

Menurutnya, sangat kontras dengan lanskap perpolitikan dewasa ini, penuh sikap prilaku “mencuri”: korupsi sebagai “budaya”, konstitusi dikhinati untuk melahirkan dinasti politik yang hina, semangat reformasi 25 tahun lalu dicampakkan, keutamaan berpolitik yang diwariskan Bapak Ibu Pendiri Republik dianggap tidak pernah ada.

“Tragis ini negeri. Sejarah mengetuk “pintu” bagi rakyat negeri ini, untuk berani melangkah, menyatukan “bayu, sabda, idep”, melestarikan estafet spirit mengabdi untuk “negeri at all cost” sebagaimana ditelandankan oleh Pak Rai (I Gusti Ngurah Rai) DKK yang darahnya menyirami bumi pertiwi tercinta INDONESIA,” kata Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pembelajar sejarah bangsanya.

“Rawe-rawe rantas, malang malang putung”, meminjam ungkapan heriok dan retorik Soekarno dalam perjuangan Soekarno bersama rakyat untuk mampu keluar dari kehidupan penjajahan yang hina”. (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here