Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Tahun 2025 Tahun Penuh Bahaya -Vivere Pericoloso-

0
156

Ilustrasi : Rakyat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah turun ke jalan menuntut bupati mundur. 

 

Sebagai sebuah refleksi perjalanan bangsa, kita bisa menyimak kembali pidato Presiden Soekarno pada perayaan 17 Agustus 1964 bertema Tahun Vivere Pericoloso. Ungkapan dalam bahasa Italia yang berarti tahun penuh ancaman dan bahaya.

Jika disimak isi pidato Presiden Soekarno tsb., bahaya imperialisme dan kolonialisme selalu membayangi bangsa dan negara. Seluruh bangsa mesti bersatu, berani menghadapi tantangan tsb., karena revolusi belum selesai.

Kalau dalam konteks pidato di atas, tantangan besar datang dari luar, sedangkan tantangan sekarang adalah kombinasi “mematikan”, tantangan dari dalam dan luar negeri. Tantangan dari dalam, kita bisa menyimak pesan Presiden Soekarno di hadapan delegasi mahasiswa yang datang ke Istana Merdeka, Jakarta, Bulan Juli 1967.

Soekarno mengatakan: “perjuanganku lebih mudah karena berhadapan dengan bangsa asing yang menjajah, tetapi perjuangan kalian lebih berat karena harus berhadapan dengan bangsa sendiri”. Kata-kata bersayap yang sarat makna, visioner yang sampai hari ini semakin relevan.

Dalam perspektif gerakan masyarakat sipil, baca gerakan rakyat, upaya merespons tahun Vivere pericoloso, mempersyaratkan, pertama, semakin bertumbuhnya kesadaran, melalui kristalisasi pemikiran dan organisasi gerakan rakyat, salah guna yang super kebablasan tidak lagi bisa ditoleransi, karena akibatnya derita rakyat akan tidak lagi tertahankan.

Kedua, adagium “kekuasaan punya kecenderungan korup, kekuasaan absolut akan melahirkan korupsi yang absolut pula”, tidak lagi cukup dilawan melalui konter wacana, tetapi meminjam istilah Soekarno memerlukan Rach Forming, konsolidasi kekuatan rakyat untuk melakukan perlawanan.

Ketiga, belajar dari kegagalan gerakan reformasi 27 tahun lalu, begitu banyaknya penumpang gelap reformasi, kembali meminjam istilah Soekarno, revolusi adalah menjebol dan membangun. Yang dijebol, prilaku koruptif kekuasaan yang bisa ada di mana-mana karena korupsi telah menjadi “budaya”, dan yang dibangun kewarasan berpikir bangsa, sejalan dengan spirit pendiri bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Baca Juga :  Polda Tangkap Mantan Wagub Bali I Ketut Sudikerta

Gerakan rakyat yang membuat demarkasi yang jelas antara: mereka dan kita. Untuk menghindari terulangnya penumpang gelap dalam pribahasa “Musang berbulu Ayam. Ethos baru bangsa mesti ditumbuh-kembangkan dari sebuah bangsa yang merdeka bukan hadiah dari penjajah, tetapi perjuangan keras dengan pengorbanan tak terhingga: darah, air mata, keluarga tercinta dan harta benda.
Dirgahayu 80 Tahun Indonesia Merdeka

Jro Gde Sudibya, pengamat sosial budaya, peminat sejarah kebangsaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here