Refleksi Akhir Tahun, Demer: Bali Jangan Terlena! Pembangunan Bandara di Buleleng dan LRT Urgent Selamatkan Pariwisata, Adat dan Budaya Bali

0
347

Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer.

Balinetizen.com, Denpasar 

Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer memberikan catatan dan refleksi akhir tahun terkait pembangunan Bali menjelang penghabisan tahun 2023 dan menyongsong Tahun Baru 2024.

Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali ini menyoroti soal masa depan pariwisata Bali yang berada dalam “alarm bahaya” dan “zona merah” jika pembanguan bandara Bali di Bali Utara Kabupaten Buleleng tidak diwujudkan. Demer menegaskan jika pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) tidak memenangkan pemilu maka bandara di Buleleng tidak akan bisa terbangun yang artinya menjadi bahaya besar bagi pariwisata Bali dan juga eksistensi adat budaya Bali yang terancam punah.

Demer juga memberikan catatan khusus dan mendorong percepatan realisasi rencana pembangunan sarana transportasi Lintas Raya Terpadu (LRT) akan juga akan dilakukan di tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Salah satunya di Sentra Parkir Kuta, Badung dimana Sentral Parkir Kuta merupakan salah satu titik yang akan dilewati oleh LRT fase 1 yang membentang dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga Seminyak.

Bagi Demer pembangunan bandara baru di Buleleng dan pembangunan LRT sangat dibutuhkan Bali dan sangat urgent untuk menyelamatkan pariwisata, adat dan budaya Bali. “Pembangunan bandara baru di Buleleng dan LRT harus segera kita wujudkan dan kawal bersama. Jika tidak, pariwisata Bali dalam bahaya, begitu juga adat budaya Bali akan terus tergerus,” kata Demer ditemui di Denpasar, Rabu 27 Desember 2023.

Baca Juga :  "Exit poll" LSI Denny JA, Pasangan Jokowi-Ma'ruf Menang

Lebih lanjut Demer mengatakan bahwa dirinya sangat khawatir dengan nasib pariwisata Bali di tahun 2024 jika capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo-Gibran kalah dalam Pilpres 2024, karena bisa dipastikan proyek bandara di Bali Utara tidak akan terjadi.  Apalagi putra calon presiden nomor urut tiga Ganjar Pranowo, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, belum lama ini ikut-ikutan menolak pembangunan bandara baru di Bali Utara yang menurutnya tidak akan meningkatkan wisatawan datang ke Bali.

“Terus bagaimana nanti masuknya turis ke Bali kalau tiket aja susah, mahal lagi, kan menjadi ekonomi biaya tinggi,” ungkap Demer yang dikenal sebagai wakil rakyat yang sudah berbuat banyak untuk Bali, mengawal pembangunan Bali dari pusat dan terus bergerak di masyarakat untuk membangun ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM.

Dengan tidak adanya pemerataan pembangunan di Bali tersebut, Demer khawatir akan memicu perang tarif hotel hingga tingkat pengangguran semakin tinggi di Bali. Demer menyayangkan saat ini tidak banyak orang yang “ngeh” terhadap  persoalan yang ada di pulau dewata.

“Dan sayangnya tidak banyak juga orang yang tahu dan paham tentang data-data airport ini. Mudah-mudahan segera ngeh tentang persoalan yang ada di Bali ini, tentang infrastruktur kita. Ini yang saya sangat sayangkan,” sesal Demer yang juga Ketua Korwil Pemenangan Pemilu (PP) Wilayah Bali-NTB-NTT DPP Partai Golkar ini.

Wakil rakyat berlatar belakang pengusaha sukses dan mantan Ketua Umum Kadin Bali itu kemudian memuji visi pembangunan Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya terkait pentingnya membangun sarana transportasi umum massal seperti kereta api maupun kereta cepat. Menurut Demer pembangunan proyek Lintas Raya Terpadu (LRT) lebih penting ketimbang pembangunan fisik Pusat Kebudayaan Bali (PKB) yang menelan biaya fantastis hingga  triliunan rupiah.

Baca Juga :  Gesekan Kabel Wifi Picu Kabel di Tiang Listrik Terbakar

Pembangunan LRT ini juga dinilai sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan yang memang menjadi momok bagi Bali, selain juga masalah sampah dan banjir. Karena bagaimana pun juga Bali harus memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata.

“Itu yang kita penting kan karena kedepan ini persoalan kita adalah satu kemacetan, yang kedua adalah sampah. Itu yang urgent. Kalau dulu ada banjir dan sekarang sudah enggak kebetulan ada kekeringan. Tapi tetap kita harus waspada tiga hal tadi, banjir, sampah, kemudian kemacetan. Karena itu merupakan kenyamanan bagi turis,” terang wakil rakyat yang sudah empat periode mengabdi di DPR RI memperjuangkan kepentingan Bali ini dan kembali maju nyaleg dari Partai Golkar ke DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Bali dengan nomor urut 2 pada Pileg 2024.

Demer juga meminta Bali untuk tidak terlena dan merasa hebat karena di sanjung-sanjung sebagai pulau destinasi terbaik, namun tetap harus meningkatkan kenyamanan dan keamanan. Jangan sampai karena masalah macet, sampah dan banjir para wisatawan pindah ke lain hati. Namun untuk sektor keamanan Demer menyebut saat ini sudah cukup bagus.

“Jangan terlena dan merasa hebat Bali ini, disanjung-sanjung pulau yang hebat, pulau destinasi terbaik. Tapi bagaimana kalau kita nyamannya tidak nanti. Orang macet ke mana-mana, bau sampah dimana-mana, terus apalagi kalau hujan banjir dimana-mana. Ya kalau saya jadi wisatawan Eropa pindah, masih ada Thailand, masih ada Philippine, masih ada Malaysia atau bahkan kalau di Jawa masih ada Jogja, kan ada yang lain yang menarik,” pungkas politisi Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng itu mengingatkan. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here