Refleksi Raina Buda Manis Dukut, Keserakahan Kekuasaan Membawa Penderitaan

0
232

Jro Gde Sudibya

Rabu, 27 Agustus 2025, raina Buda Manis Dukut. Dalam sosiologi agama masyarakat Bali sering direlasikan dengan pemujaan Tuhan Wisnu, karena Buda berada di Posisi Barat, pemujaan Tuhan Mahadewa, Manis di Posisi Timur, pemujaan Tuhan Iswara.”Penemon” Buda Manis, “medal” kekuatan Tuhan Wisnu, yang diyakini melindungi Alam Raya beserta semua makhluk ciptaan Nya.
Dalam Itihasa Ramayana, Maha Baratha, banyak diulas bagaimana semestinya Dharma kepemimpinan dijalankan, nilai dan spirit kepemimpinan ditegakkan, dibagikan dan mencerahkan masyarakat yang dipimpin. Nilai kepemimpinan dalam perspektif luas dan kaya: integritas, dedikasi, keteladan, kerelaan penuh untuk berkorban demi kepentingan rakyat yang dipimpin.
Realitas sosialnya banyak yang bertentangan, kontras, dan “nungkalik” dengan nilai, spirit yang digariskan dalam Itihasa di atas.
Ciri umum Kekuasaan dewasa ini, sarat keserahan dari para pelakunya, tampaknya tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu.
“Aji mumpung”, “kemaruk” ciri umum pelaku kekuasaan dewasa ini, tanpa kewaspadaan dan mawas diri dari pelakunya. Kekuasaan yang nyaris tanpa empati, berpesta pora (korupsi) di atas derita rakyat. Kekuasaan yang serakah menjadi pangkal penyebab derita rakyat. Sumber daya negara dikorupsi rame-rame, sumber daya alam rusak parah pada waktu yang bersamaan masyarakat adat dipinggirkan/dimarginalkan, limpahan sumber daya “digerojogkan” ke belasan oligark, dinikmati oleh mereka bersama tuan-puan penguasa pemberi rente, di atas derita rakyat, yang nyaris kehilangan harapan masa depan.
Meminjam ungkapan negarawan bapak pendiri India, Mahatma Gandhi, yang oleh Soekarno dan juga Soetan Sjahrir dianggap sebagai “guru” politiknya, -greedy in to misery-, keserakahan menjadi pangkal penderitaan, tidak saja buat rakyat, tetapi juga para pelaku keserakahan itu sendiri. Karena menurut Gandhiji, greedy, keserakahan merontokkan batin manusia sebagai insan bermoral dengan kualifikasi spiritual, melahirkan kegelapan pikiran dan jiwa yang menjadi pemicu penderitaan setiap insan manusia.
Gandhiji meneladankan prilaku politik AHIMSA (emoh kekerasan, dalam artian phisik dan juga simbol), SATYA (berbasis kebenaran, kebenaran otentik).

Baca Juga :  Sekda Badung Adi Arnawa Lepas Jalan Sehat di Desa Wisata Cemagi

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pengamat kebudayaan Bali.

slot gacor hari ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here