Refleksi Raina Caraswati, Praksis Caraswati di Perdesaan Bali Mula

0
125

 

Sabtu, 31 Oktober 2026, Saniscara Watugunung Sasih Kelima Icaka 1948 Raina Caraswati. Di perdesaan Bali Pegunungan yang kental dengan tradisi Bali Mula, raina Caraswati disebut raina Pemugpug, raina penutup putaran waktu 210 hari, 30 wuku @ 7 hari. Raina penutup yang kaya makna, dengan simbol persembahan bubur sumsum, berelasi dengan kesuburan dan kesejahteraan yang bisa di “sesap” dan dinikmati. “Sarin gumi” yang patut “ditunas” “melarapan antuk” karma baik.
Praksis, teori yang dipratekkan dalam dalam Perayaan Caraswati, mengandung makna yang dalam dan kaya, menyebut beberapa dalam pengertian yang disederhanakan dari tradisi di perdesaan Bali Mula ini, pertama, Caraswati, Aliran Pengetahuan tanpa henti, abadi, pada masyarakat yang berguru pada Alam, menjadi spirit yang memasuki relung hati dari “Manusia” Alam, menstimulasi pikiran dan hati yang kemudian tampak di permukaan sebagai ethos kerja tangguh sejalan dengan irama Alam. Kedua, pengetahuan rokhani yang membodi ini, menjadi spirit prilaku, kekuatan tanpa akhir -endless power-, yang melahirkan tidak saja ethos kerja tangguh, daya tahan risilensi dalam menghadapi perubahan Alam dengan segala suka dan dukanya. Ketiga, ethos kerja dengan energi, ausdawer tanpa batas, kekuatan spiritualitas Caraswati yang membumi, memberikan kesejahteraan dari Alam, untuk keberlangsungan kehidupan plus peningkatan kualitas kehidupan, sejalan dengan perubahan Desa, Kala, Patra.
Di perdesaan Bali Pegunungan dengan tradisi Bali Mula, Caraswati bukanlah pengetahuan di luar diri, tetapi menyatu dalam Bayu, Sabda, Idep, perbuatan, ucapan dan pikiran, untuk melahirkan prestasi nyata, prestasi yang bermakna buat hidup dan kehidupan.
Perspektif lain untuk menjelaskan Bali sebagai Pulau Dewata.

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Terima Audensi Kwarcab Badung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here