Refleksi Raina Coma Tolu, Pemimpin Bijak VS Pemimpin Licik Plus Penjilat

0
38

Ilustrasi

Penulis : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Hari ini, Senin, 4 Mei 2026, raina Coma Tolu, pujawali ring Pura Batu Ngadeg Besakih, pemujaan Tuhan Wisnu. Konon di Besakih berlangsung tradisi, jika sudah selesai maturan di Pura Batu Ngadeg, maka “aed mebhakti” hari itu telah berakhir. Implisit bermakna Vaishnawa Paksa, sistem keyakinan pemujaan Tuhan Wisnu menjadi tradisi di Besakih. Ida Dalem Waturenggong melengkapinya dengan ategepan Pura Catur Pattha.Pura: Gelap, Kiduling Kerteg, Ulun Kul-kul dan Batu Ngadeg (renovasi terhadap bebaturan yang ada).
Pemujaan Tuhan Wisnu, sering direlasikan dengan cakti Tuhan Wisnu, karakter kepemimpinan yang berani, tegas, tanpa kompromi terhadap penyimpangan prilaku kehidupan, asuba karma.
Pura Pucak Sinunggal ring Den Bukit, Bali Utara, simbolik pemujaan Tuhan Wisnu Cri Narayana.Kekuatan Tuhan Wisnu dalam bentuk kepemimpinan yang membumi di “cihna” kan, di sisi Timut Bukit, Pura Sang Hyang Lesung Sunaring Jagat. Tuhan Wisnu yang menyinari dunia dalam kepemimpinan, memberikan kesejahteraan bagi umat Nya.
Piodalan di Pura ini Kajeng Maulu nemu Sasih Kasa.
Kepemimpinan dengan karakter kuat: berani, tegas tanpa kompomi, menjalankan teguh dharmanya, berempati pada rakyat miskin,kepemimpinan nan bijak. Sebagaimana digambarkan oleh kepemimpinan raja besar Bali yang membangun Pura Pucak Sinunggal.
Kepemimpinan yang meninspirasi, menjadi “urat nadi” tradisi kepemimpinan sebelas Desa penyungsung Pura Pucak Sinunggal.
Tingkat gradasi tradisi kepemimpinan yang berbeda satu desa dengan desa lainnya. Substansi kepemimpinan yang diekspresikan dalam tari Sakral “ilen-ilen” Ida Bhatara Pucak Sinunggal, tari Sakral Tantri yang dipersembahkan pada rainan tertentu dengan persyaratan super ketat.
Kontras dengan kepemimpinan bijak di atas, di zaman Kali Yuga ini, dimana secara teo-filosofi, pusat kesadaran manusia pindah dari kepala ke lutut, sehingga dalam bahasa terangnya prilaku Pemimpin “ngandang nganjuh”, “tilar ring sesana”, “nitya wacana”, berperilaku buruk tidak pantas menjadi panutan.
Pemimpin dengan kualifikasi licik dan penjilat (kekuasaan di atasnya), tanpa prinsip, cari aman, “mecik manggis”, menjiat ke atas menekan ke bawah. Masyarakat tanpa pemimpin , leaderless society, auto pilot. Masyarakat “misa-misaang iban” untuk bisa hidup, sekadar menjadi “parekan” kekuasaan, dengan kemunafikan dan kedunguan yang menyertainya. Ironi dan kemudian menjadi tragedi.

Baca Juga :  Kecelakaan, Pemudik Meninggal Dunia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here