Hari ini, Rabu, 4 November 2026, raina Pagerwesi. Raina Pagerwesi tahun lalu, 10 September 2025 terjadi “banjir bandang” menerjang Bali, “gumine benyah latig” dengan kerusakan yang tidak terpanai. Dua hari lalu, 2 November 2026 “nemu” raina Coma Ribek, banjir menerjang beberapa tempat di Bali, menimbulkan korban jiwa, terjadi bencana dalam kategori “panca baya” yang ngeletehin jagat Bali. Bencana yang menimbulkan korban jiwa bukan bencana an sich, “ngeletehin” gumi, mengotori alam “sekala lan niskala”, mengotori tata pikir masyarakat, diperlukan upaya penyucian alam, “merebu gumi”.
Pemimpin mesti bijak membaca tanda-tanda alam, pertama, secara teknokrasi, ancaman krisis iklim nyata, bencana hidrometrologi menjadi fakta, banjir, longsor, kebakaran hutan dan kebakaran lainnya, melahirkan kerugian material dan non material besar dan bahkan tak terpanai. Program mitigasi bencana menjadi mutlak, diupayakan dengan serius, tidak setengah hati apalagi sekadar pencitraan. Kedua, lebih rendah hati untuk lebih banyak belajar dari Alam, berkonpromi dengan alam, tidak semena-mena dengan alam, apalagi dengan motif keserakahan. Ketiga, pendekatan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat alam raya bersama dengan keyakinan dengan Tuhan, sehingga dapat semena-mena pada alam, tidak saja merusak dan merugikan alam, tetapi bisa mengancam masa depan umat manusia.
Bisa mengantarkan umat manusia menuju kepunahan.
Kesepakatan Paris (2016), jika suhu bumi naik di atas 1,5 derajat celsius. dunia akan mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi terhadap krisis iklim. Bali dalam 70 tahun terakhir 1950 – 2020 suhunya naik 1,9 derajat celsius, jauh lebih tinggi dari Kesepakatan Paris. Ancaman bencana akibat krisis iklim menghadang, perlu pemimpin bijak dalam merumuskan program aksi penyelamatan.
Semoga.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat lingkungan dan kecenderungan masa depan.

