Suasana dan ritual Ida Bhatara Turun Kabeh ring Pura Besakih, Rabu 1 April 2026. Ida Bhatara ring Pura Basukhian keiring olih semeton pengempon menuju Pura Penataran Agung.
Raina Purnama di bulan “bersih” sasih Kedasa, Kamis, 2 April 2026, di banyak Desa di Bali diselenggarakan upakara Piodalan Neduh, ada yang menyebutnya dengan Piodalan Ngusaba Desa, yang dalam agama tua Alam -Agama Alam-, sebagai persembahan kepada “Tuhan Seru Sekalian Alam”, atas limpahan kemakmuran Nya. Kemakmuran yang diperoleh melalui relasi dengan alam, mengikuti dan berguru dengan hukum alam, “nunas” hasil Nya sesuai hukum karma yang berlaku.
Dengan sastra yang datang kemudian, Upakara Neduh, Ngusaba Desa direlasikan dengan pemujaan Tuhan Wisnu – Iswara – Brahma – Mahadewa dalam kosmologi ruang 270 derajat, “diperluas” dengan pemujaan Tuhan Sankara simbolik energi Tuhan pemberi kemakmuran, sehingga upakara menjadi “metegepan”, “ngider bhuwana”, “nemu guru”, dengan cakupan luas 360 derajat.
Upakara yang diharapkan “bersinar” maknanya masuk ke relung batin krama, “metaksu” punya daya/spirit dalam mentransformasi batin krama menuju pendakian rokhani.
Tantangan dalam menjaga dan merawat “Taksu” upakara untuk tidak menjadi (maaf) “campah”, “cemer” yang menggambarkan sebut saja kebingungan dalam penyelenggaraan seluruh proses upakara.
Tantangan bagi Panca Greg, seluruh komponen penting yang bertangung-jawab dalam “yasa kerthi” upakara: pertama, ada kebersihan hati “suci ning nirmala-tan keletehan” dalam penyelenggaraan upakara. Kedua, sikap pengabdian tulus lahir batin -nuking tuwas-. Ketiga, punya modal kejujuran diri, kalau merasa “leteh” dalam penunggalan “bayu, sabda, Idep” sebaiknya mengundurkan diri dari”genah peyasaan”.Keempat, prosesi upakara bukanlah tempat untuk menonjolkan diri, tetapi momentum untuk “ngayah” melalui pengendalian diri ketat terhadap setiap potensi Ahamkara. Kelima, menumbuhkan keyakinan dalam diri, kalau mungkin ditularkan ke “semeton” lainnya, dengan “yasa kerthi”di atas diyakini upakara akan “metaksu”, “tarpana” akan menjadi realitas yang memberikan ketenangan, ketentraman, kedamaian dalam hubungan “Pawongan”, melahirkan spirit baru dalam hubungan “Palemahan”, pemantapan diri dalam hubungan “Parhyangan”. Semakin lebih memahami sastra dan adanya dorongan kuat untuk melaksanakan, SAT (baca Ada, Tuhan), CHIT (Pengetahuan tentang Realitas Tuhan), ANANDA (Samudra Kebahagiaan).
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun “ring Kaja Kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit Bali Utara.

