Hari ini, Selasa, 10 Juni 2025 “nemu” Purnama Sadha. Bagi “sang wikan” dalam “ala ayuning dewasa”, pemaknaannya dalam dimensi ruang dan waktu, Purnama Sadha direlasikan dengan makna: Amertha Akasa, Amertha Bhuwana, Dirgahayu, Dinamandi, momentum hari baik menata diri.
Momentum Hari Baik Menata Diri, momentum menumbuhkan kesadaran akan kemulyaan diri, menyebut beberapa “sastra” Diri yang kemudian menjadi “sastra” Kehidupan
Pertama, dalam Prasasti tua di Bali dinyatakan: “kedatangan kita ke dunia ini adalah keutamaan dan kemulyaan (momentum untuk memperbaiki diri), sehingga laksanakan keutamaan dan kemulyaan kehidupan tsb.dalam ke seharian kehidupan”. Kedua, perjalanan “Tetirah” pakulun Ida Rsi Markandya dan rombongan, untuk “menemukan” Giri Toh Langkir (baca Gunung Agung), mulai dari: Ubud – Lungsiakan – Kadewatan – Tanggayuda – Melinggih Kaja – Ngepah Hyang (baca Payangan) – Kertha – Bayung Gede – Penelokan – Kladian – Basukhian (baca Besakih), gambaran dari perjalanan insan manusia utama menuju ke keutamaan yang lebih tinggi dan lebih bermakna (secara rokhani). Ketiga, perjalanan tirtha yatra Ida Dalem Waturenggong dari Gelgel menuju “batu yang bergerak” “ring tepi siring segara danu tan metepi Danu Batur”, mulai dari Penelokan – To iye yeh mampeh – Bucu Mati – Palebahan Meneng – Windhu Segara, mewariskan pesan makna: kepemimpinan adalah pendakian rokhani yang kemudian dibumikan dalam sastra kehidupan untuk keselamatan rakyat dan masa depannya.
Sastra kehidupan singkat di atas, semestinya dijadikan cermin dalam Menata Diri, terlebih-lebih bagi para pemimpin yang punya swadharma terdepan untuk menjaga Bali: Alam, Manusia dan Kebudayaan dari risiko kehancuran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Rahajeng nyanggra raina Purnama Sadha.
Rahayu.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pembelajar kebudayaan Bali, pengamat kecenderungan masa depan

