Balinetizen.com, Denpasar
Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada Rabu (20/5), Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui unit operasional Fuel Terminal Sanggaran secara resmi mengumumkan keberlanjutan program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulan bertajuk “PROGRAM PEMBERDAYAAN DIFAPRENEUR (DIFEL CAFÉ) DAN SKIZOPRENEUR (RUMAH BERDAYA)”. Memasuki Tahap IV, inisiatif ini dirancang sebagai fase penguatan profesionalisasi usaha yang terintegrasi demi mewujudkan kebangkitan ekonomi yang inklusif, mandiri, dan bermartabat bagi kelompok rentan di Kota Denpasar.
Program DIFEL (Disability & Female Empowerment Leader) Café dan gerakan Skizopreneur di Rumah Berdaya hadir sebagai respons strategis untuk mengatasi hambatan struktural, stigma sosial, dan rendahnya partisipasi kerja formal bagi penyandang disabilitas serta penyintas skizofrenia di Kota Denpasar. Melalui penyediaan ruang kerja inklusif di unit usaha bersama dan pengembangan model usaha mikro mandiri, program intervensi ekonomi inklusif ini telah berhasil meningkatkan kemandirian finansial peserta, menciptakan lingkungan kerja yang adaptif, dan menjadikan DIFEL Café sebagai model praktik terbaik (best practice) dalam pemberdayaan masyarakat rentan di tingkat lokal.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa momentum Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat penting bagi perseroan untuk terus mendorong kemandirian seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
“Momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini menjadi pemantik bagi kami di Pertamina Patra Niaga untuk menegaskan kembali komitmen mewujudkan kemandirian bangsa yang seutuhnya—kemandirian yang tidak meninggalkan siapapun di belakang, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas dan penyintas skizofrenia. Melalui Program Tahap IV ini, kami berfokus pada standardisasi dan profesionalisasi manajemen usaha agar DIFEL Café dan unit Skizopreneur memiliki daya saing yang setara di pasar modern. Ini adalah bentuk nyata dari esensi kebangkitan: bangkit bersama secara ekonomi, meruntuhkan stigma sosial, dan membangun ekosistem usaha berkelanjutan yang setara,” ujar Ahad Rahedi.
Evaluasi mendalam pada akhir fase sebelumnya menunjukkan bahwa penguatan pada aspek tata kelola (governance) menjadi kunci utama menghindari stagnasi operasional. Merespon arah penguatan tata kelola tersebut, Ketua KUBE Gantari Jaya Graha Nawasena, I Nyoman Juniarta, mengungkapkan rasa optimisme dan kesiapan kelompoknya untuk naik kelas menuju pengelolaan yang lebih mandiri.
“Kami di KUBE Gantari Jaya Graha Nawasena sangat merasakan dampak positif pendampingan dari Pertamina. Kehadiran DIFEL Café membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk produktif dan mandiri. Masuknya program Tahap IV yang fokus pada penyusunan SOP usaha, perbaikan layanan, dan pemenuhan sertifikasi halal ini adalah langkah besar yang kami butuhkan untuk menepis stigma dan membuktikan bahwa manajemen operasional kami bisa dikelola secara profesional layaknya bisnis modern komersial,” ujar I Nyoman Juniarta.
Sementara itu, unit Skizopreneur di Rumah Berdaya terus melanjutkan roda bisnisnya pada lini produksi dupa dan layanan cuci motor. Pertamina memandang penguatan strategi pemasaran digital (marketing strategy), tata kelola keuangan sederhana, serta legalitas usaha mutlak diperlukan agar produk dupa dan layanan jasa yang dihasilkan mampu menjangkau pangsa pasar yang lebih luas serta berdaya saing tinggi.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Program Skizopreneur Rumah Berdaya, I Nyoman Sudiasa, turut menekankan pentingnya aspek legalitas dan perluasan pasar ini sebagai instrumen pemulihan psikososial yang berkelanjutan bagi para penyintas.
“Bagi para penyintas gangguan kesehatan mental di Rumah Berdaya, program Skizopreneur bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan ruang terapi psikososial dan pemulihan martabat. Melalui lini produksi dupa dan cuci motor, teman-teman penyintas membuktikan bahwa mereka mampu berdaya. Intervensi perbaikan legalitas usaha serta penguatan strategi pemasaran dari Pertamina pada Tahap IV ini sangat krusial agar produk kami mampu bersaing secara stabil di pasar yang lebih luas dan membawa kemandirian jangka panjang,” jelas I Nyoman Sudiasa.
Melalui standardisasi manajemen, legalitas, dan perluasan pasar, Pertamina Patra Niaga berkomitmen mengawal Program DIFEL Café & Skizopreneur menuju kemandirian yang berkelanjutan. Keberhasilan program di Kota Denpasar ini diharapkan tidak hanya menciptakan usaha inklusif yang tangguh, tetapi juga menjadi role model nasional bagi lahirnya generasi difapreneur dan skizopreneur yang berdaulat secara ekonomi. (RED-BN)

