Sejarah Sedang Terbentuk di Kota New York : Zohran Mamdani, Imigran Asal India Menjadi Wali Kota New York

0
593

Balinetizen.com, Jakarta –

 

Sejarah Sedang Terbentuk di Kota New York, Zohran Mamdani, Imigran Asal India yang Muslim, Berusia 34 Tahun, Sayap Sosialis dari Partai Demokrat Memenangkan Pertarungan Politik dan Menjadi Wali Kota New York.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, Jumat 7 Nopember 2025.

Dikatakan, New York merupakan simbol dari kapitalisme global lebih dari satu abad, menyebut beberapa: pasar global Wall Street , Markas Umum PBB, Kantor Pusat: Bank Dunia, IMF dan banyak perusahaan keuangan global berkantor pusat di sana.

‘Di Simbol peradaban kapitalisme global yang perkasa, sekarang terjadi peristiwa bersejarah warga kotanya memilih, Mamdani yang sebut saja memiliki “minoritas ganda” suku dan agama memenangkan pertarungan politik, dalam pemerintahan Federal, “house of reperesenratitives” dan senat yang dikuasai Partai Republik, dimana Presiden Donald Trump sebagai tokoh utamanya dengan menggunakan isu SARA sebagai “senjata” politik,” kata Jro Gde Sudibya.

Diberitakan secara luas di medsos, Mamdani merupakan politisi Partai Demokrat dari sayap sosialis, dalam kerja politiknya menyampaikan pesan tentang arti penting sosialisme humanis, nilai keadilan, pemerataan untuk tujuan kemanusiaan.

Dikatakan, Senator ternama partai Demokrat J Sander dalam unggahannya di media sosial menyatakan Mamdani dalam kampanyenya didukung oleh puluhan ribu relawan yang datang dari pintu ke pintu, warga per warga tentang program sosialisme humanis dari Mamdani. Program yang membumi tentang birokrasi yang melayani sesuai harapan pemerataan dan keadilan bagi warga kota.

“Pemberitaan akan kemenangan Mamdani lebih menarik perhatian publik, karena Ibunya Mira Nair produser film ternama di indistribusi film Bollywood,” katanya.

Timbul pertanyaan reflektif dari kemenangan Mamdani ini, dalam konteks pengembangan demokrasi di banyak negara yang pada umumnya mengalami tekanan akibat dari otoritarianisme dan bahkan totalitarianisme.

Baca Juga :  AS berlakukan sanksi terhadap Putin dan pemimpin lain Rusia

Menurutnya, Banyak negara mengalami penurunan kualitas demokrasi, demokrasi yang cacat, terjadi fenomena indeks demokrasi menurun, indeks persepsi korupsi menaik.

Dikatakan, dalam konteks warga New York, kapitalisme global yang selama ini dinilai sebagai sebuah sistem yang prima ternyata tidak mampu memenuhi rasa keadilan bagi warganya.

Menurutnya, rasa keadilan yang tertekan begitu lama, bisa melahirkan “penghukuman” di bilik suara, seperti yang baru saja berlangsung di New York. Bisa melahirkan “people power” seperti yang baru saja terjadi di: Madagaskar, Nepal, dan sebelumnya terjadi Bangladesh dan juga Srilanka.

Dikatakan, Belajar dari kemajuan cepat China dan India, elite politik yang mampu mendesain sistem politik, kultur politik yang tepat dengan kepemimpinan yang pas sejalan tuntutan zaman.

” Bagi negara bangsa yang gagal mengembangkan sistem, kultur politik dan rekrutment kepemimpinan, siap-siap saja mengalami ketegangan politik berkepanjangan dengan potensi revolusi sosial seperti yang baru dialami oleh Nepal,” katanya.

Menurutnya, Perdana Menteri diturunkan rakyat, parlemen dibubarkan, dipilih pemimpin sementara seorang hakim agung yang punya reputasi dalam penegakan hukum.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here