Sektor Properti Komersial Bali Mulai Pulih, Ritel dan Apartemen Sewa Jadi Penopang Utama

0
142

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Pasar properti komersial di Provinsi Bali menunjukkan sinyal pemulihan pada triwulan II (Q2) 2026. Meskipun masih berada di zona terkontraksi, pergerakan harga dan tingkat permintaan mencatatkan perbaikan yang signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini didorong oleh perlambatan penurunan permintaan serta pasokan properti yang tetap terjaga solid di Pulau Dewata.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia Provinsi Bali, Indeks Harga Properti Komersial pada triwulan II 2026 tercatat turun sebesar -4,99% (yoy). Angka ini membaik jika dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang sempat terkontraksi hingga -5,85% (yoy).

Dinamika harga properti komersial di Bali dipengaruhi oleh performa beberapa segmen utama:

Segmen yang Mengalami Koreksi:

Hotel: Turun -5,25% (yoy) akibat tingginya persaingan, sensitivitas harga wisatawan domestik, dan belum optimalnya kunjungan wisatawan mancanegara akibat kondisi geopolitik global.

Perkantoran Sewa: Turun -2,51% (yoy).

Segmen yang Mengalami Kenaikan:

Apartemen Sewa: Melonjak 20,27% (yoy). Kenaikan ini didorong oleh perubahan pola sewa ke jangka pendek (1–2 bulan) yang memiliki tarif per bulan lebih tinggi.

Ritel Sewa: Tumbuh tipis 0,03% (yoy).

Sisi permintaan juga menunjukkan arah perbaikan. Indeks Permintaan Properti Komersial pada Q2 2026 terkontraksi sebesar -5,50% (yoy), membaik dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar -9,27% (yoy).

“Di tengah penurunan permintaan pada segmen hotel (-9,71%), perkantoran (-14,61%), dan apartemen (-27,48%), permintaan segmen ritel sewa justru melonjak pesat hingga 12,88% (yoy),” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam keterangan resminya Jumat (14/8).

Peningkatan permintaan ritel sewa dipicu oleh ekspansi berbagai gerai franchise internasional di bidang Food & Beverages (F&B) serta collectible & hobbies. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat Bali masih relatif terjaga dan menarik bagi para pelaku usaha.

Baca Juga :  Gubernur Koster Sambut Baik Rencana Conference of Parties Minamata Convention on Mercury di Bali 

Sementara itu, penurunan pada segmen lain lebih dipengaruhi oleh dinamika kebutuhan pengguna:

Perkantoran: Penyewa lebih memilih ruang kerja yang fleksibel dan efisien secara biaya.

Apartemen & Hotel: Wisatawan dan penyewa beralih ke masa tinggal lebih singkat serta lebih memilih akomodasi alternatif seperti vila dan resor.

Di tengah penyesuaian harga dan permintaan, Indeks Pasokan Properti Komersial Bali tumbuh sebesar 4,39% (yoy). Pertumbuhan pasokan terutama didukung oleh:

Ritel Sewa: Naik 10,74% (yoy) seiring ekspansi bisnis yang menyasar segmen ekonomi kelas atas.

Hotel: Naik 2,35% (yoy) berkat penambahan kamar oleh sejumlah hotel berbintang sebagai strategi jangka panjang menyambut potensi lonjakan wisatawan.

Pertumbuhan pasokan yang stabil ini sejalan dengan kinerja Lapangan Usaha Konstruksi Provinsi Bali yang terus bergerak positif pada triwulan II 2026.

Memasuki triwulan III 2026, kinerja sektor properti komersial Bali diproyeksikan makin menguat. Faktor utamanya adalah masuknya periode peak season kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Australia.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, Bank Indonesia terus mendorong penyaluran pembiayaan perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Sinergi antara pasokan, permintaan, dan dukungan kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi Bali yang berkualitas dan berkelanjutan.(RSL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here