Foto: Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) menyerahkan bantuan bioflok kepada Pokdakan Yowana Werdi Sentana di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Selasa (21/9/2021).
Balinetizen.com, Tabanan
Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerahan bioflok dan penebaran benih lele senilai Rp 200 juta (termasuk biaya pelatihan) kepada Pokdakan Yowana Werdi Sentana di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Selasa (21/9/2021).
“Bantuan budidaya lele dengan sistem bioflok ini adalah rangsangan agar ekonomi kerakyatan bergerak,” kata Amatra yang akrab disapa Gus Adhi ini.
Di Pokdakan Yowana Werdi Sentana terdapat 8 kolam bioflok dan di masing-masingnya ditebar 2.800 bibit ikan lele sehingga total ada 22.400 ekor ikan di bioflok ini.
Untuk diketahui bioflok adalah salah satu teknologi budidaya ikan, yakni suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Prinsip dasar bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari kabon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen menjadi massa sludge berbentuk bioflok. Perubahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan sebagai bioflok.
Teknik ini populer di kalangan peternak lele dan nilai karena mampu menggenjot produktivitas panen yang lebih tinggi. Selain itu, metode bioflok juga menekan penggunaan lahan menjadi tidak terlalu luas dan hemat air.
Oleh sebab itu, bioflok menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta menjadi cara ekonomis bagi para pebisnis bidang perikanan.
Gus Adhi lantas menjabarkan beberapa kelebihan budidaya lele dengan sistem bioflok dibandingkan yang konvensional. Pertama sistem bioflok tidak memerlukan lahan luas, jadi bisa dilakukan di lahan sempit.
“Dengan sistem bioflok bisa hemat lahan, disini kurang lebih 2 are bisa 8 flok. Jadi di lahan sempit bisa berusaha,” terang Gus Adhi yang merupakan praktisi pembudidaya lele selama bertahun-tahun sebelum menjadi anggota DPR RI.

Kedua hasil budidaya ikan di bioflok bisa lebih besar dari konvensional. “Peningkatan panen bisa 5 hingga 6 kali lipat dibandingkan konvensional,” kata Anggota Komisi II DPR RI ini.
Ketiga, hasil budidaya dengan bioflok lebih enak dari budidaya lele konvensional. “Ikannya lebih lezat, saya sudah membuktikannya,” ujar wakil rakyat yang dikenal dengan spirit perjuangan “Amanah, Merakyat, Peduli” (AMP) dan “Kita Tidak Sedarah Tapi Kita Searah” ini.
Keempat, ikan yang dibudidayakan dengan sistem bioflok lebih tahan dengan penyakit. Kelima, dari segi penggunaan pakan tidak terlalu banyak, jadi efisien dan bisa menekan biaya pakan.
“Jadi dengan bioflok lebih menguntungkan dan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” tegas Gus Adhi yang juga Ketua Depidar SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) Provinsi Bali ini.

Menurut politisi Golkar asal Kerobokan, Badung ini kelebihan lain dari sistem bioflok bisa dilakukan berdampingan dengan budidaya sayur hidroponik dimana limbah air dari budidaya lele dapat dimanfaatkan untuk air nutrisi hidroponik. Sistem ini dikenal pula dengan aquaponik.
Ketua Pokdakan Yowana Werdi Sentana Gusti Made Maha Putra mengungkapkan bantuan bioflok dan benih lele diharapkan menjadi barometer menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar lewat sektor perikanan di masa pandemi Covid-19.
“Perikanan ladang bisnis menjanjikan, tidak terdampak pandemi, perikanan masih bergerak, eksis di masa pandemi. Semoga bantuan ini jadi inspirasi masyarakat mencari tambahan ekonomi dari perikanan,” kata Maha Putra.
Yang membanggakan Pokdakan Yowana Werdi Sentana ini mayoritas anggota merupakan anak-anak muda, generasi milenial yang tertarik terjun ke sektor perikanan dan diharapkan bisa jadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tabanan aA Ngurah Raka Icwara juga mengapresiasi konsistensi Gus Adhi membantu membangkitkan sektor perikanan di Tabanan. “Beliau menggerakkan ekonomi kerakyatan di masa pandemi Covid-19 semoga bisa mengentaskan kemiskinan,” harapnya.
Dengan bantuan in pihaknya juga berharap kelompok penerima ke depannya bisa mandiri dan mampu menggerakkan kelompok lain untuk sukses berbudidaya lele. “Harus mandiri, jangan seperti selalu menyusu ke pemerintah,” pungkasnya.
Plt Kepala Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan Karangasem I Gusti Putu Agung mengungkapkan di Bali ada 8 paket bantuan bioflok dan benih lele senilai Rp 200 juta. Harapannya bisa memberikan nilai tambah kepada masyarakat di masa pandemi. Karena di masa pandemi yang masih bisa eksis kegiatan pertanian dan perikanan.
“Dengan bantuan ini masyarakat pembudidaya ikan lele agar bergairah membudidayakan ikan lele karena tidak terlalu rumit dengan sistem bioflok dibandingkan konvensional,” ujarnya.
Perbekel Desa Pandak, Gusti Ketut Artayasa mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan Gus Adhi. Pihaknya pun berharap Pokdakan Yowana Werdi Sentana selaku penerima bantuan dapat memanfaatkan dan mengelola bantuan ini dengan baik untuk menggerakkan dan menggeliatkan perekonomian. (wid)

