Dijuluki Anggota DPR RI “Lele”, Gus Adhi “Amatra” Gencar Gerakkan Ekonomi Kerakyatan dengan Bantuan Bioflok Lele

0
275

Foto: Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) di sela-sela menyerahkan bantuan bioflok kepada Pokdakan Yowana Werdi Sentana di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Selasa (21/9/2021).

Balinetizen.com, Tabanan

Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) tidak hanya dikenal sebagai wakil rakyat yang konsisten membangun sektor pertanian dan peternakan namun juga merupakan praktisi dan pelaku langsung di sektor ini.

Ternyata wakil rakyat yang akrab disapa Gus Adhi ini selama bertahun-tahun pernah menjadi pembudidaya lele sebelum dirinya terpilih menjadi Anggota DPR RI dapil Bali untuk pertama kalinya di tahun 2014 dan terpilih kembali untuk kedua kalinya ke Senayan sebagai wakil rakyat dari Bali pada Pileg 2019.

Bahkan saat terpilih pertama kali ke Senayan di 2014, wakil rakyat yang dikenal dengan spirit perjuangan “Amanah, Merakyat, Peduli” (AMP) dan “Kita Tidak Sedarah Tapi Kita Searah” ini mengaku melenggang ke Senayan karena lele.

Selain menjadi pembudidaya dan pedagang lele, saat itu  Gus Adhi gencar mendampingi memberdayakan masyarakat/peternak untuk menjadi pembudidaya lele khususnya juga dengan sistem bioflok.

“Kalau caleg bawa uang miliaran saat itu saya bahwa jutaan bibit lele. Saya ajarkan masyarakat bagaimana budidaya Lele yang benar. Saat periode pertama jadi DPR RI saya jadi karena lele. Bahkan disebut DPR RI Lele,” ungkap Gus Adhi saat menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerahan bioflok dan penebaran benih lele senilai Rp 200 juta (termasuk biaya pelatihan) kepada Pokdakan Yowana Werdi Sentana di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Selasa (21/9/2021).

Anggota Komisi II DPR RI ini lantas bercerita di Bangli dirinya juga sudah membantu membuat percontohan perkebunan jeruk terintegrasi dengan budidaya lele. Air limbah dari budidaya lele untuk pemupukan kebun kebun jeruk.

Baca Juga :  The Meru Sanur Bali Hadir Manjakan Wisatawan dengan 184 Suite

“Hasilnya sangat bagus bisa terintegrasi peternakan lele dan pertanian,” ungkap Gus Adhi yang sebelumnya bertugas di Komisi IV DPR RI membidangi pertanian, perikanan, lingkungan hidup dan kehutanan.

Kali ini Gus Adhi kembali gencar memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan memberikan bantuan bioflok dan benih ikan lele di sejumlah daerah di Bali. Untuk di Pokdakan Yowana Werdi Sentana terdapat 8 kolam bioflok dan di masing-masingnya ditebar 2.800 bibit ikan lele sehingga total ada  22.400 ekor ikan di bioflok ini.

Di hari yang sama bantuan bioflok serupa dengan total masing-masing Rp 200 juta juga diserahkan untuk Pokdakan Mina Lestari Samuan Kangin, Desa Carangsari, Kecamatan Petang Badung selanjutnya kepada Pokdakan Mina Amerta Banjar Muding Kelod, Kelurahan
Kerobokan Kaja, Kecamatan Kuta Utara, Badung.

Sebelumnya Gus Adhi juga menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerahan bioflok dan penebaran benih lele kepada Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Air Mancur Desa Sangkar Agung, Jembrana, senilai Rp 200 juta, Senin (20/9/2021).

“Bantuan budidaya lele dengan sistem bioflok ini adalah rangsangan agar ekonomi kerakyatan bergerak,” kata jelas politisi Golkar asal Kerobokan, Badung ini yang juga Ketua Depidar SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) Provinsi Bali ini.

Untuk diketahui bioflok adalah salah satu teknologi budidaya ikan, yakni suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Prinsip dasar bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen menjadi massa sludge berbentuk bioflok. Perubahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan sebagai bioflok.

Teknik ini populer di kalangan peternak lele dan nilai karena mampu menggenjot produktivitas panen yang lebih tinggi. Selain itu, metode bioflok juga menekan penggunaan lahan menjadi tidak terlalu luas dan hemat air.

Baca Juga :  Aplikasi Cookpad, Sajikan Aneka Resep Masakan Dalam Bentuk Digital

Oleh sebab itu, bioflok menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta menjadi cara ekonomis bagi para pebisnis bidang perikanan.

Gus Adhi lantas menjabarkan beberapa kelebihan budidaya lele dengan sistem bioflok dibandingkan yang konvensional. Pertama sistem bioflok tidak memerlukan lahan luas, jadi bisa dilakukan di lahan sempit.

“Dengan sistem bioflok bisa hemat lahan, disini kurang lebih 2 are bisa 8 flok. Jadi di lahan sempit bisa berusaha,” terang Gus Adhi yang merupakan praktisi pembudidaya lele selama bertahun-tahun sebelum menjadi anggota DPR RI.

Kedua hasil budidaya ikan di bioflok bisa lebih besar dari konvensional. “Peningkatan panen bisa 5 hingga 6 kali lipat dibandingkan konvensional,” kata Anggota Komisi II DPR RI ini.

Ketiga, hasil budidaya dengan bioflok lebih enak dari budidaya lele konvensional. “Ikannya lebih lezat, saya sudah membuktikannya,” ujar Anggota DPR RI dua periode ini.

Keempat, ikan yang dibudidayakan dengan sistem bioflok lebih tahan dengan penyakit. Kelima, dari segi penggunaan pakan tidak terlalu banyak, jadi efisien dan bisa menekan biaya pakan.

“Jadi dengan bioflok lebih menguntungkan dan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” tegas Gus Adhi yang juga Ketua Harian Depinas SOKSI ini.

Menurutnya kelebihan lain dari sistem bioflok bisa dilakukan berdampingan dengan budidaya sayur hidroponik dimana limbah air dari budidaya lele dapat dimanfaatkan untuk air nutrisi hidroponik. Sistem ini dikenal pula dengan aquaponik.(wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here