Sosialisasikan Empat Pilar di Kampus Kosgoro 1957, Gus Adhi “Amatra” Singgung Kemandirian Pangan Kuncinya Cintai Produk Pangan Dalam Negeri

0
598

Foto: Anggota Badan Sosialisasi MPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) saat mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI di Institut Bisnis dan Informatika KOSGORO 57 (IBI – K57), Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Balinetizen.com, Jakarta

Anggota Badan Sosialisasi MPR RI AA/Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali AA Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) hadir mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI kepada kalangan generasi muda, para mahasiswa di Institut Bisnis dan Informatika KOSGORO 57 (IBI – K57), Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Bagi Anggota Komisi II DPR RI yang akrab disapa Gus Adhi ini sosialisasi Empat Pilar yang dihadirkan di kampus Kosgoro 1957 juga punya makna tersendiri dan nilai lebih jika menilik ke belakang bagaimana lahirnya Kosgoro 1957 dan peran strategisnya dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

“Kosgoro 1957 merupakan ormas pendiri Partai Golkar yang cikal bakalnya dalam fungsi dan tugasnya melakukan pembinaan dan menghimpun para pelaku UMKM di masa itu, ada gotong royongnya disitu. Berangkat dari sejarah itu, saya tekankan tadi bagaimana kita berupaya dan berjuang memujudkan kemandirian pangan,” ujar Gus Adhi yang sebelumnya bertugas di Komisi IV DPR RI membidangi pertanian, kelautan, perikanan dan lingkungan hidup.

Menurut Gus Adhi, untuk mewujudkan kemandirian pangan tidak hanya berkaitan dengan politik pangan atau bagaimana memproduksi pangan maupun kebijakan pangan, tapi yang terpenting adalah bagaimana mendorong masyarakat mau mengkonsumsi pangan hasil bangsa sendiri atau pangan lokal. Dengan kata lain bagaimana mencintai produk pangan dalam negeri.

“Dengan mencintai produk pangan dalam negeri. baru kita bisa mempercepat proses kemandirian pangan. Jangan sampai masyarakat kita sudah mampu menghasilkan pangan tapi masyarakat Indonesia tidak mau mengkonsumsi itu, buru-buru langsung ke rumah makan yang aliansi ke bukan kearifan lokal atau dari asing,” ungkap Gus Adhi yang selama ini konsisten memberdayakan petani untuk menghasilkan produk pangan unggulan seperti baru-baru ini meluncurkan produk kopi petani Bali dengan spirit “Seteguk Kopi Sejuta Senyum untuk Petani.”

Baca Juga :  PT Mahakarya Abadi Konsultan Tegaskan Komitmen Profesionalisme di Tengah Isu Negatif

Sementara itu Empat Pilar yang disosialisasikan Amatra di Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57) yaitu, Pancasila sebagai Dasar Ideologi Negara, UUD Tahun 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Penting kita gaungkan Empat Pilar akan menebalkan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda,” tegas Gus Adhi yang juga Ketua Harian Depinas SOKSI ini.

Untuk diketahui Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57) yang dahulu bernama Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIMA) Kosgoro merupakan perguruan tinggi swasta bidang Bisnis dan Informatika di Jakarta Selatan yang telah berkiprah sejak tahun 1990.

Pada tahun 2012, STIMA Kosgoro berubah nama menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957. Badan Penyelenggara IBI-K57 adalah Yayasan Universitas Kosgoro 1957 dibawah naungan Kosgoro 1957.

Seperti diketahui Kosgoro merupakan salah satu ormas pendiri Partai Golkar bersama SOKSI dan MKGR yang disebut Ormas Tri Karya.  “Saya senang bisa memberikan materi Empat Pilar di kampus Kosgoro 1957 yang merupakan salah satu ormas pendiri Partai Golkar. Saya ajak mahasiswa mendalami Empat Pilar MPR RI,” kata Gus Adhi.

Kepada mahasiswa, Gus Adhi berpesan agar mahasiswa yang merupakan generasi muda penerus pembangunan agar tidak hanya hafal mengucapkan Pancasila tapi bagaimana benar-benar mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai insan Pancasilais.

“Apalagi di masa pandemi ini kita harus meningkatkan rasa gotong royong, rasa saling sayang menyayangi. Karenanya saya tekankan sesuai Sila Pertama Pancasila bagaimana meningkatkan iman dan takwa kita. Lalu terkait Sila Kedua kita meningkatkan rasa sayang kita kepada sesama,” terang anggota DPR RI dua periode ini.

Baca Juga :  MUI Terima Laporan Soal Prostitusi Sebelum Penggusuran di Puncak Bogor

“Sila Ketiga, kita memperkokoh rasa persatuan. Sila Keempat, selalu bermusyawarah dalam kehidupan. Sila Kelima, kita meningkatkan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial karena itu merupakan jati diri bangsa kita. Jadi masa pandemi ini kita harus bergandengan tangan,” papar Gus Adhi.

Materi yang disampaikan wakil rakyat yang akrab disapa Gus Adhi ini disambut antusias para generasi muda. Banyak tanggapan dan pertanyaan datang dari kalangan mahasiswa. Misalnya ada yang menanyakan bagaimana upaya dalam  mengelola perbedaan yang ada sehingga tidak berbuah konflik.

Menjawab pertanyaan mahasiswa, Gus Adhi menjelaskan perbedaan adalah karunia indah dari Tuhan agar kita lebih dewasa juga dalam menjalani proses kehidupan. Contohnya di rumah tangga kita ada perbedaan, laki perempuan, dan bagaimana di tengah perbedaan itu kita menciptakan keharmonisan.

Dalam konteks NKRI juga kita ada perbedaan suku, agama, budaya yang merupakan berkah Tuhan yang indah untuk bangsa ini. “Jadi kuncinya bagaimana mengelola perbedaan itu untuk menciptakan keharmonisan,” ujar Gus Adhi yang juga Ketua Depidar SOKSI Bali ini.

Berikutnya ada pertanyaan menarik dari mahasiswa yang menanyakan apakah bangsa yang mempunyai ideologi dan falsafah apakah pasti bisa lepas dari perpecahan. “Saya bilang tidak mesti. Semua bangsa mempunyai ideologi dan falsafah tapi bangsa itu akan hancur bilamana tidak bisa memegang teguh falsafah,” terang Gus Adhi.

“Makanya disanalah fungsinya MPR RI menghadirkan sosialisasi Empat Pilar. Kalau falsafah Pancasila sudah tertanam jadi jati diri bangsa maka disanalah kekuatan bangsa akan terwujud,” beber Gus Adhi menjawab pertanyaan mahasiswa.

Gus Adhi menegaskan bangsa dan negara yang kuat adalah yang mampu memegang teguh falsafah negara. Sebaliknya suatu bangsa dan negara bisa hancur berkeping-keping, terpecah belah jika tidak mampu memegang teguh falsafah negara.

Baca Juga :  Jokowi Masa Lalu, PDIP Move On

Karenanya Indonesia jika ingin tetap eksis terus sebagai bangsa dan negara yang kuat, besar dan menjadi negara maju maka harus tetap berpegang teguh pada Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia.

“Irak, Libya, Yaman, Suriah hancur karena tidak kuat pegang falsafah negaranya.
Maka Indonesia harus kuat pegang falsafah negaranya yakni Pancasila. Jangan lagi Pancasila seperti diberikan ke pasar bebas, bisa diadakan bisa tidak,” kata politisi Golkar asal Kerobokan, Badung, Bali ini.

Di sisi lain para mahasiswa yang menerima sosialisasi Empat Pilar ini juga mengkhawatirkan kekuatan negara asing yang berpotensi mengintervensi Indonesia. Karenanya muncul pertanyaan mahasiswa bagaimana upaya membendung kekuatan asing dalam mengganggu keamanan dalam negeri kita.

Menjawab pertanyaan ini, Gus Adhi mengutip kata bijak Sang Proklamator dan Presiden pertama RI Bung Karno yang menyebutkan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. “

“Kata-kata Bung Karno itu harus jadi refleksi dalam upaya membendung kekuatan asing karena yang mampu membendung itu ya diri kita sendiri, kembalilah kepada falsafah jati diri bangsa kita Pancasila,” pungkas wakil rakyat yang dikenal dengan spirit perjuangan “Amanah, Merakyat, Peduli” (AMP) dan “Kita Tidak Sedarah Tapi Kita Searah” ini. (wid).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here