Sejarah terbentuk di kota New York, kandidat partai Demokrat Zohran Mamdani (34) yang mengklaim diri sebagai sosialis humanis mengalahkan politisi senior Partai Republik Andrew Coumo (67) mantan Gubernur New York dalam Pilkada kota New York.
New York adalah simbol dari kekuatan kapitalis yang selama ini sangat perkasa. Konon puluhan juta dolar AS telah dikeluarkan oleh Partai Republik untuk memenangkan calonnya, sedangkan Zohran Mamdani yang didukung Partai Demokrat mengerahkan puluhan ribu relawan yang datang dari pintu ke pintu untuk menjelaskan program sosialisme humanis dari Mamdani, tentang kebijakan perkotaan yang memihak kaum miskin dan kelas menengah ke bawah.
Tentang isu penting ke seharian kehidupan, biaya transportasi publik yang murah, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang berempati pada kelompok bawah, perlindungan bagi kelompok bawah terhadap kesemena-menaan kaum oligarki industri perumahan yang semena-mena bagi penyewa apartemen kelompok miskin dan kelas menengah.
Hasil pilkada New York telah menjadi catatan sejarah, Mamdani menang, dan diberitakan 30 pemilih Yahudi mencoblos Mamdani. Di kota simbol kapitalisme, janji politik sosialisme humanis memenangkan pertarungan.
Dalam perayaan Hari Pahlawan, ide, pemikiran dan idealisme sosialistik sangat dikenal dalam perjalanan sejarah bangsa ini, dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Para pendiri Republik menyebut saja: Soekarno, Hatta dan Soetan Sjahrir, menyebut diri mereka sebagai sosialis dan memperjuangkan kemerdekaan dengan ideologi sosialisme.
Bisa disimak isi pembukaan UUD 1945 tentang: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Memajukan Kesejahteraan Umum, Keadilan Sosial, memberikan gambaran senyatanya dari cita-cita sosialisme. .
Singkat kata, Idealisme Sosialistik menjadi spirit dari perjuangan tanpa pamrih dari anak-anak bangsa dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Realitas politik sekarang, kontras, kontradiktif dan bahkan “nungkalik” dengan spirit kepahlawanan yang melahirkan ini negeri.
Sebagai referensi, buku yang ditulis oleh Sri Sultan Hamengkubowono ke IX “Takhta untuk Rakyat” memberikan bukti kesejarahan bagaimana kekuasaan mesti dikelola, diarahkan untuk kepentingan rakyat.
Belajar dari perspektif kesejarahan dari para pendiri bangsa di atas, dan fenomena kemenangan politik sosialisme humanis dalam Pilkada Kota New York, perayaan Hari Pahlawan hari-hari ini untuk kembali ke spirit kepahlawanan, bekerja tanpa pamrih untuk cita-cita sosialistik dalam Pembukaan UUD 1945.
Barangkali pernyataan ini terlalu naif dalam menyimak “pat gulipat”kekuasaan yang sedang berlangsung, tetapi peringatan tetap diperlukan, meminjam kata pepatah ” sebelum semuanya menjadi bubur”.
Jro Gde Sudibya, pengamat kebangsaan dan kecenderungan masa depan.

