Ket foto : ilustrasi survei BI Bali, konsumen tahan pembelian elektronik (pixabay)
Balinetizen.com, Denpasar
Persepsi positif masyarakat terhadap kondisi perekonomian di Bali masih terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali pada Februari 2026 yang tetap berada di level optimis, meskipun mengalami perlambatan secara bulanan.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali, IKK pada Februari 2026 tercatat sebesar 130,6, turun 3,6 persen secara bulanan (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas level optimis (>100) dan lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang berada di angka 125,2.
Optimisme konsumen di Bali terutama didorong oleh beberapa kelompok pendapatan. Kelompok dengan pendapatan Rp5–6 juta mencatat indeks tertinggi sebesar 139,5, diikuti kelompok Rp4–5 juta sebesar 138,2, Rp6–7 juta sebesar 135,8, serta kelompok pendapatan di atas Rp8 juta sebesar 132,8.
Selain itu, keyakinan konsumen juga tercermin dari responden berdasarkan jenis pekerjaan, yaitu pekerja sektor formal dengan indeks 135,3 dan sektor informal sebesar 121,1.
Survei Konsumen sendiri merupakan survei bulanan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ekonomi ke depan.
Perlambatan IKK terutama disebabkan oleh turunnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 121,0, turun 5,7 persen secara bulanan dari sebelumnya 128,3.
Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya konsumsi barang-barang tahan lama, seperti barang elektronik. Indeks konsumsi barang tahan lama tercatat turun 13,1 persen (mtm).
Mayoritas responden dalam survei mengaku menunda pembelian barang elektronik, terutama karena mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini.
Selain itu, indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan lalu juga turun 6,3 persen (mtm). Banyak responden memperkirakan akan terjadi penurunan omzet usaha, sehingga masyarakat cenderung menahan konsumsi.
Kondisi ini sejalan dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Data Angkasa Pura menunjukkan bahwa pada Februari 2026 jumlah wisatawan mancanegara dan domestik menurun 11,2 persen (mtm) dengan total kunjungan sekitar 814 ribu orang. Penurunan kunjungan wisatawan tersebut terjadi seiring periode low season pariwisata di Bali.
Selain IKE, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga mengalami perlambatan dari 142,7 menjadi 140,2, atau turun 1,8 persen secara bulanan.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya:
Indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang menjadi 135,0 (turun 4,3%)
Indeks prakiraan kegiatan usaha enam bulan mendatang menjadi 140,0 (turun 1,4%)
Responden menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global, yang berpotensi mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan dan meningkatkan persaingan usaha.
“Secara umum IKE dan IEK masih berada di level optimis, karena sebagian responden masih melihat kondisi ekonomi Bali tetap positif,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Erwin Soeradimadja, dalam keterangan resminya di Denpasar, Jumat (13/3/2026).
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah pengendalian harga.
Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Nyepi dan Idulfitri pada Maret 2026, TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui: Operasi pasar murah, Pengawasan harga komoditas pangan danKoordinasi distribusi bahan pokok.
Pelaku usaha sektor perhotelan serta makanan dan minuman juga telah meningkatkan pasokan bahan pangan sejak beberapa bulan terakhir guna mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode libur panjang.
Dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 4,75 persen. Selain itu, BI juga menetapkan: Deposit Facility: 3,75 persen dan Lending Facility: 5,50 persen.
Sementara itu, pemerintah juga memberikan sejumlah stimulus untuk menjaga mobilitas masyarakat selama periode HBKN, di antaranya:
Diskon tiket kapal laut hingga 30 persen (1 Maret – 5 April 2026)
Diskon tiket pesawat domestik hingga 18 persen untuk keberangkatan 14–29 Maret 2026
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendukung stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth) di Bali. (Rls)

