Taman Pintar: Mewujudkan Impian Pendidikan Berkualitas di Desa Mengening

0
188

 

Balinetizen.com, Buleleng

 

Di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, terdapat sebuah rumah milik Komang Anik Sugiani, seorang wanita lulusan S3 dari Universitas Negeri Malang.

Saat disambangi Minggu 17 September 2023, terdengar gelak tawa ceria anak-anak. Rupanya anak-anak desa Mengening tengah belajar di rumah sederhana yang berlokasi tepat di belakang bangunan rumah Komang Anik Sugiani.

Rumah sederhana itu disebut Taman Pintar, sebuah tempat pembelajaran yang diinisiasi oleh wanita yang biasa disapa Anik ini. Taman Pintar sendiri sudah ada sejak tahun 2016 di bawah naungan Yayasan Project Jyoti.

Di ruang berukuran 3 x 4 meter, nampak anak-anak laki -laki dan perempuan berusia 4 hingga 13 tahun memancarkan semangat yang luar biasa.

Meski ruangan itu kecil, namun antusias mereka untuk belajar sangat tinggi, mereka rupanya usai mengikuti pembelajaran menggambar sebagai persiapan mengikuti lomba menggambar yang akan datang.

Di lahan seluas 2 are inilah anak-anak itu belajar non formal mulai dari hari Senin – Minggu. Anik bercerita bahwa ia bukanlah dari keluarga dengan orang tua berpendidikan tinggi namun ia memiliki tekad kuat untuk mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Ia ingin memberikan anak-anak di desanya kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang berkualitas.

“Saya ingin generasi berikutnya di Desa Mengening memiliki potensi yang luar biasa, seperti anak-anak ini yang sudah bisa membaca pada usia 4 tahun,” ujar Anik yang asli orang Desa Mengening ini.

Anik bukan hanya bermimpi, ia juga bertindak. Bersama tiga rekannya, mereka mendirikan Yayasan Project Jyoti. Meski saat ini hanya Anik yang serius terlibat dalam yayasan tersebut, rekan-rekannya selalu memberikan dukungan penuh.

Baca Juga :  Hari Raya Kuningan, Klungkung menampilkan Dolanan Jagat Kertih

Sebagai lulusan Teknologi Pembelajaran, Anik menyediakan akses Wi-Fi gratis di Taman Pintar. Ia berharap suatu hari nanti Taman Pintar bisa menjadi tempat pembelajaran non-formal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), sehingga anak-anak putus sekolah di desanya dapat melanjutkan pendidikan.

Anik melihat banyak anak di sekitarnya yang terpaksa putus sekolah dan menikah pada usia dini. Hal ini memotivasi Anik untuk membangun PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) di desanya. Namun, tantangan yang dihadapi adalah perolehan dana, dengan perkiraan RAB (Rencana Anggaran Biaya) sekitar Rp300 juta. Selain itu, masalah tanah juga menjadi hambatan dalam proses perizinan.

“Kendala utama adalah dana pembangunan sekitar Rp300 jutaan. Kami juga membutuhkan tanah yang saat ini tidak tersedia,” ungkap Anik yang mengaku sempat mengirimkan proposal pengajuan bantuan sarana prasana ke Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Kemenparekraf) namun ditolak karena masalah sertifikat tanah.

Meski ‘mentok’ di Kemenparekraf, wanita penerima Apresiasi Astra Tingkat Provinsi 2021 ini mengaku mendapat dukungan dari Pemprov Bali, yang memberikan bantuan senilai Rp30 juta. Dengan dana tersebut, ia berencana merenovasi bangunan sederhana Taman Pintar.

Menurut Anik, kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan memulai dari guru dan kurikulumnya. Guru harus memahami karakter siswanya sehingga belajar menjadi lebih menarik. Konsep belajar sambil bermain yang diterapkan di Taman Pintar mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Salah satu siswa Taman Pintar, Kadek Jazlyn Mayra Indahsani (10), merasa bahwa Taman Pintar dapat membantu menambah wawasannya dan mengatasi kekurangan dalam pembelajaran di sekolah. Dia berbagi kesan positif tentang konsep belajar dan bermain yang dijalankan di sana.

“Untuk menambah wawasan, karena saya merasa di sekolah ada yang kurang dalam mendapatkan pelajaran. Disini saya senang sekali karena setelah belajar ada permainan. Setelah berdoa pulang itu di tes siapa benar boleh pulang,” ungkap Mayra siswa kelas 5 SD yang bercita – cita menjadi dokter ini.

Baca Juga :  Exit Meeting BPK, Wabup Ipat Harap Kembali Raih WTP

Hal yang sama diungkap Ni Luh Echa Zivillia Lestari (13). Echa biasa disapa ini sudah duduk di kelas 8, ia mengaku sudah mengikuti pembelajaran selama 5 tahun. Pada masa Covid, menurutnya pembelajaran di Taman Pintar sangat membantunya.

Taman Pintar sendiri menurut Anik bukan hanya tempat pembelajaran, tetapi juga tempat bermain yang dapat membantu anak-anak tumbuh dan berkembang.

Dengan semangat dan tekad Anik, Taman Pintar diharapkan akan menjadi tempat yang memungkinkan anak-anak di Desa Mengening menggapai impian mereka dan mewujudkan potensi luar biasa yang mereka miliki.(Tri Prasetiyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here