Balinetizen.com, Denpasar
Memimpin dengan himbauan dan SE tanpa kecerdasan implementasi (XQ) lapangan, bukan memimpin namanya. Setengah memimpin -quasi leadership- yang pasti tidak efektif. Dalam bahasa terangnya auto pilot, kepemimpinan yang gagal.
Hal itu dikatakan pengamat politik Jro Gde Sudibya, Rabu 20 Agustus 2025 di Denpasar.
“Ambil contoh, krisis sampah yang sedang berlangsung, saling lempar tanggung jawab, gambaran dari kinerja birokrasi yang gagal. Padahal jika ditelisik Pemerintah Pusat katanya menyediakan dana cukup untuk menegakkan UU tentang Lingkungan Hidup,” katanya.
Dikatakan, kegagalan kepemimpinan dari perspektif filosofi dan manajemen kepemimpinan, bisa akibat dari: under estimasi (menganggap enteng persoalan), tanpa skala prioritas, tuna “sense of urgency”.
“Ekspresi dari (dari perspektif budaya Bali), kepemimpinan yang “nyapa kadi aku”, sok paling pintar dan paling tahu, anti kritik, akibat bersemainya bawah sadar kultur budaya politik feodal,” kata Jro Gde Sudibya.
Ditambahkan, apalagi kemudian “didukung-benarkan” oleh suryak siu, dalam ungkapan orang Buleleng “sing juari nuturang”.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

