Tantangan Kepemimpinan WK – GP dalam Mengantisipasi Krisis Ekonomi Akibat Perang AS, Israel VS Iran di Timur Tengah

0
238

 

Balinetizen.com, Denpasar

Kini terjadi tekanan terhadap industri pariwisata Bali terutama dari wisatawan Eropa yang berjumlah sekitar 20 persen, akibat berhentinya penerbangan Asia – Eropa lewat udara Iran dan kawasan sekitarnya.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, ekonom, pengamat: ekonomi dan kecenderungan masa depan, Sabtu 28 Maret 2026.

“Risiko penurunan wisatawan ini akan berdampak cukup serius terhadap industri pariwisata dan ekonomi Bali,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, akibat kelangkaan BBM dan atau kemungkinan harga BBM di pasar global, akan menaikkan tarif penerbangan secara signifikan, diperkirakan akan berdampak serius dalam perjalanan wisata dunia termasuk di kawasan Asia. Ini punya potensi menekan industri pariwisata Bali.

Dikatakan, masih segar dalam ingatan kita bersama, akibat pandemi Covid-19 tahun 2020, industri pariwisata Bali mati suri, tumbuh negatif 9,3 persen tahun 2020, tumbuh negatif 3 persen tahun 2021.

Menurut Jro Gde Sudibya, ada beberapa tantangan kepemimpinan WK – GP dalam mengelola potensi krisis ekonomi.

Menurutnya, Gubernur Koster mesti memberikan kepastian usaha dari pelaku usaha dengan kemudahan pemberian pelayanan, bebas pungutan dan korupsi dan tidak dijadikan “sapi perahan”.

Selanjutnya, alokasi APBD Bali mesti dikaji ulang, lebih diarahkan ke program membela “wong cilik”, si Marhaen yang punya posisi tawar politik terlemah, bukan dana bansos dengan muatan tinggi “politicking”.

Dikatakan, gubernur Koster mestinya melakukan efisiensi penggunaan anggaran harus lebih ditonjolkan, berbarengan dengan dana transfer daerah yang menciut, proyek boros pencitraan yang dianggarkan Rp.270 M seharusnya dipangkas habis.

“Proyek boros anggaran dengan studi kelayakan yang tidak terlalu jelas dan kapan investasi akan kembali seperti proyek Pusat Kebudayaan Bali semestinya ditunda dan atau besaran proyeknya diperkecil sehingga menjadi layak investasi,” katanya.

Baca Juga :  Peresmian Operasional 1.061 Koperasi Merah Putih, Koster: 38 Koperasi sudah Siap, Akhir Juli Genjot hingga 120 Unit se Bali

Menurutnya, dana CSR dari perusahaan yang ada di Bali diarahkan untuk memperbaiki produktivitas di sektor pertanian sebagai sektor penyangga sementara jika industri pariwisata punya potensi “mati suri”.

“Bukan dipergunakan oleh elite politik yang tidak bertangung-jawab untuk tujuan “politicking” dengan memanipulasi penggunaan dana negara,” katanya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan
.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here