Balinetizen.com, Jembrana
Kasus HIV/AIDA di Kabupaten Jembrana bertambah. Mirisnya, kurun waktu tiga bulan mulai Januari sampai Maret 2023 ditemukan belasan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dan satu diantaranya merupakan ibu hamil.
Data di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinas Kesehatan Jembrana dari tahun 2018 sampai 2021 kasus baru HIV/AIDS mengalami penurunan. Kasus baru mulai meningkat tajam di tahun 2022. Bahkan ditemukan 13 ODHA pada ibu hamil.
Tahun 2019 tercatat 95 kasus. Tahun 2020 turun menjadi 87 kasus. Kemudian tahun 2021 kasus baru kembali turun dengan total 72 kasus. Kasus baru mulai bertambah di tahun 2022 sebanyak 79 kasus. Dan selama tiga bulan di tahun 2023 ditemukan 13 kasus baru.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinas Kesehatan Jembrana dr. Gede Ambara Putra mengatakan temuan ODHA dari bulan Januari sampai Maret 2023 sebanyak 13 kasus baru.
“Sampai hari ini sudah ada 13 kasus baru dengan 1 ODHA ibu hamil. Usia mereka kisaran 20 sampai 45 tahun ” ujar Ambara didampingi Ida Bagus Made Adnyana ditemui, Kamis 9/3/2023).
Dua tahun belakangan kata dia, kasus ODHA pada ibu hamil sempat mengalami penurunan. Tahun 2021 ditemukan 13 kasus dan sepanjang tahun 2022 tercatat 10 kasus.
Kasus ODHA pada ibu hamil sambungnya, diketahui melalui tes kehamilan. Sebab tes HIV/AIDS sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) wajib dilakukan oleh ibu hamil.
Disampaikan Ambara, ada delapan orang yang rentan akan resiko terinfeksi virus HIV/AIDS. Diantaranya ibu hamil, pasien TBC, pasien IMS, penjaja cinta, lelaki yang berhubungan dengan lelaki, transgender atau waria, penasun dan WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan).
Menurutnya jumlah kumulatif ODHA mencapai 519 orang. Sebab dari 593 ODHA yang tercatat sebelumnya, 74 orang diantaranya sudah meninggal. Dan dari 519 ODHA itu hanya 473 ODHA yang rutin mengkonsumsi ARV. Sedangkan 46 tidak mengkonsumsi ARV.
“Alasan mereka belum siap. Tapi ada beberapa tidak mau membuka diri. Untuk ini kita tidak bisa memaksa” ujarnya.
Upaya untuk menekan kasus HIV/AIDS sudah dilakukan melalui sosialisasi termasuk ke sekolah-sekolah. Karena HIV/AIDS lebih disebabkan perilaku. (Komang Tole)

