Balinetizen.com, Denpasar
Waspadai KEK Pulau Serangan berubah menjadi Kawasan Ekonomi Kolonialis Pulau Serangan.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Kamis 28 Mei 2026.
Dikatakan, waspadai KEK Pulau Serangan berubah menjadi Kawasan Ekonomi Kolonialis Pulau Serangan pasti akan melakukan pembebasan tanah dan reklamasi yang berlangsung “super keras” yang merugikan masyarakat.
“Dan ini akan menimbulkan rasa ketakutan yang berkepanjangan yang yang melahirkan apa yang disebut Stocklom Sindrom,” katanya.
Menurut Jro Gde Sudibya, rasa ketakutan, kehilangan keselamatan, kehilangan akan akan masa depan dan seakan-akan empati dari investor membuat sebagian masyarakat berbalik arah mendukung investor. Dukungan yang sebenarnya palsu.
Dikatakan, menjadikan kawasan ini begitu ekskutif seakan negara dalam negara, yang nyaris mengabaikan kepentingan masyarakat lokal.
“Realitas dan butir satu dan fenomena di butir dua, sebut saja melahirkan benih-benih kolonialisme pasca 80 tahun Indonesia Merdeka,” katanya.
Menurutnya, kolonialisme baru ini sedang menerpa masyarakat Papua yang digambarkan dengan baik dalam film Dokumenter “Pesta Bali, Kolonialisme Baru di Tanah Papua.
Menurut Jro Gde Sudibya, masyarakat Bali mesti mewaspadai pembentukan KEK dengan aroma kolonialisme baru, oleh para oligarki dengan dukungan penguasa, melahirkan apa yang disebut dengan “State Craft Coruption”, korupsi atas nama negara untuk kepentingan kolusi penguasa – pengusaha, untuk menghabiskan tanah Bali yang hakekatnya suci.
“Krama Bali akan tergusur dan kemudian kalah telak secara: ekonomi, sosial, politik dan budaya,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

