Balinetizen.com, Denpasar
Ben Nugraha Albantani memperkenalkan konsep ZF Seismic Monitor & Geoscan System, sebuah sistem yang diklaim mampu melakukan analisis potensi gempa bumi melalui pendekatan matematika dan geometri ruang sebelum pelepasan energi seismik terjadi.
Menurut Ben, sistem tersebut dikembangkan sebagai pelengkap metode pemantauan seismik yang selama ini digunakan oleh lembaga kebencanaan. Berbeda dengan sistem konvensional yang mendeteksi gelombang seismik setelah patahan terjadi, ZF Geoscan diklaim berfokus pada analisis kondisi ruang dan akumulasi tegangan yang disebut sebagai indikator awal sebelum terjadinya gempa.
“Konsep yang kami bangun bukan sekadar membaca getaran yang sudah terjadi, tetapi mencoba menghitung tingkat kejenuhan ruang sebelum energi dilepaskan menjadi gempa,” ujar Ben Nugraha Albantani.
Ia menjelaskan, sistem tersebut menggunakan sejumlah parameter yang disebut sebagai indikator perubahan geometri ruang, di antaranya fluktuasi rotasi lokal, tingkat entropi, impedansi fluida, hingga model kalkulasi matematis yang diklaim mampu menggambarkan tingkat akumulasi tekanan di bawah permukaan bumi.
Dalam paparannya, Ben membandingkan konsep ZF Geoscan dengan metode pemantauan gempa yang umum digunakan lembaga seismologi dunia.
Menurutnya, sistem konvensional bekerja setelah gelombang P dan gelombang S terekam sensor seismograf, sedangkan ZF Geoscan diklaim berusaha mengidentifikasi perubahan kondisi yang diyakini terjadi sebelum patahan batuan melepaskan energi.
Ia mengibaratkan cara kerja sistem tersebut seperti balon yang terus ditiup.
“Sebelum balon meletus, karetnya akan menegang terlebih dahulu. Analogi itulah yang kami gunakan. Sistem mencoba membaca tingkat ketegangan tersebut sebelum terjadi pelepasan energi,” jelasnya.
Ben menambahkan bahwa pendekatan tersebut masih berada pada tahap pengembangan sebagai konsep ilmiah dan perangkat lunak analisis.
Dalam analisis yang dipaparkan, Indonesia disebut memiliki karakter geologi yang kompleks karena berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.
Melalui pendekatan ZF Geoscan, wilayah-wilayah subduksi dan sesar aktif dianalisis berdasarkan tingkat akumulasi tegangan geometri yang menurut Ben dapat menjadi indikator peningkatan potensi pelepasan energi.
Ia menyebut sistem tersebut dirancang untuk melakukan pemantauan secara berkelanjutan melalui dashboard digital yang menampilkan hasil analisis kondisi ruang.
Ben menegaskan tujuan utama pengembangan ZF Geoscan adalah mendukung upaya mitigasi bencana.
Menurutnya, apabila konsep tersebut dapat terus dikembangkan dan melalui proses pengujian ilmiah yang memadai, teknologi seperti ini berpotensi menjadi salah satu instrumen tambahan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi.
“Tujuan kami bukan menggantikan sistem yang sudah ada, melainkan menghadirkan pendekatan baru yang suatu hari nanti diharapkan dapat memberikan informasi lebih dini bagi keselamatan masyarakat,” katanya.
Di luar aktivitas profesionalnya sebagai sutradara, editor, colorist, dan penulis cerita film, Ben mengaku memiliki ketertarikan pada bidang analisis data dan pengembangan program teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat.
Ia berharap pengembangan konsep tersebut dapat menjadi kontribusi nyata bagi dunia ilmu pengetahuan dan keselamatan publik.(IST)
Catatan Redaksi: Artikel ini memuat klaim dan penjelasan dari pengembang ZF Seismic Monitor & Geoscan System. Hingga saat ini, kemampuan sistem untuk memprediksi gempa sebelum terjadi sebagaimana dipaparkan masih memerlukan validasi ilmiah independen, pengujian berulang, serta penelaahan (peer review) oleh komunitas ilmiah sebelum dapat dianggap sebagai metode yang telah terbukti secara ilmiah.

