118 Tahun Kebangkitan Nasional Idealisme Kecerdasan Berbudi, Faktanya Kini, Kedunguan Sosial Berbalut Keserakahan

0
188

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Sebagai sebuah kilas balik kesejarahan, 20 Mei 1908, 118 tahun yang lalu, dr Wahidin Soediro Husodo dkk.mendirikan Boedi Oetomo, sebuah organisasi kalangan terdidik dengan idealisme melahirkan insan-insan manusia berbudi dalam realitas kehidupan yang didominasi oleh kehinaan dan penghinaan bagi bangsa terjajah. Dengan kecerdasan berbudi ini, insan-insan manusia terdidik menjadi lebih paham dan mengerti duduk masalah bagi bangsa yang sedang terjajah. Singkat cerita idealisme ini pada akhirnya melahirkan insan-insan manusia terdidik, cerdas dan bahkan visioner. Mereka adalah generasi bapak pendiri Republik ini.
Mulai dari Tan Malaka,HA.Salim, Soekarno, Goesti Ketut Poedja sampai J Kasimo.
Pasca 118 tahun Kebangkitan Nasional, negeri ini, bangsa ini dihadapkan pada fenomena sosial yang paradoks kontradiktif: kedunguan sosial berbalut keserakahan. Lihat saja prilaku elite kekuasaan di negerinya ini sebut saja terutama dalam 7 tahun terakhir. Muncul kosa kata menyebut beberapa, anak haram konstusi, korupsi sebagai “budaya”, korupsi atas nama negara untuk kepentingan kolusi penguasa-pengusaha “state craft coruption”. Kondisi bangsa yang semakin memprihatinkan, mengerikan dan nyaris kehilangan harapan akan masa depan. Kenapa fenomena sosial ini terjadi, diikuti tengah peradaban dunia yang semakin berkembang dan menantang?.
Jika merujuk buku antropolog ternama UI Prof.Koentjoroningrat dalam bukunya “Mentalitet dan Pembangunan” dan orasi kebudayaan wartawan cum sastrawan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki Jakarta sekitar pertengahan tahun 70’an, fenomena sosial ini sebagai akibat dari, menyebut beberapa, pertama, sikap mental “aji mumpung”, ingin cepat kaya, populer dengan mengabaikan proses. Kedua, sikap mental feodal, dengan ukuran-ukuran palsu kehidupan, lepas tanggung jawab dan tidak menghargai meritokrasi. Ketiga, sikap mental “menerabas”, prilaku menghalalkan semua cara, ingin cepat dapat hasil-Quick Yeilding-, tidak mau bersusah payah, menurunkan ethos kerja ke titik nadir kehinaan. Keempat, doyan bermimpi, lebih tepat disebut ilusi, fata morgana tentang Indonesia Emas, negara “gemah ripah loh jinawi”. Kelima, karakter penjilat, “yes man”, ABS (Asal Bapak Senang), gambaran dari mereka yang malas dan enggan berpikir yang kemudian melahirkan (maaf) kedunguan. Keenam, lahir sebut saja “industri” baru dalam 10 tahun terakhir, “industri” pendengung, buzzer yang berbasis kedangkalan pemikiran dan kemudian “memproduksikan”: miskonsepsi, teori konspirasi, kebohongan, kebencian dan bahkan fitnah. Padahal menurut pandangan Pak Nas, Jenderal AH Nasution, jenderal intelektual di tahun 1950 – 1960’an, “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.

Baca Juga :  Desa Dangin Puri Kauh Semprot Desinfektan Serentak Cegah Corona

Jro Gde Sudibya, intelektual, pembejar sejarah dan pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here