125 Tahun Soekarno, Pemikiran Neo Kolonialisme Soekarno tidak Saja Relevan tetapi Penting untuk Merespons Dinamika Ekonomi Politik Global yang Berlangsung

0
37

Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual nasionalis, pembelajar pemikiran Soekarno dan pengamat kecenderungan masa depan.

 

Soekarno lahir 6 Juni 1901 di Jalan Makam Peneleh, Surabaya, tidak jauh dari daerah Pecinan Tunjungan. Lahir, besar sampai remaja di Surabaya yang terkenal masyarakatnya populis, merakyat dan demokratis. Guru politik pertamanya HOS Cokroaminoto, seorang pejuang nasional kawakan dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Di masa inilah di Surabaya terbentuk karakter Soekarno yang begitu gandrung akan nasionalisme, patriotisme, yang kemudian diekspresikan dalam rangkaian tulisan dalam harian Suluh Indonesia semenjak Soekarno berusia sekitar 20 tahun. Buku Di Bawah Bendera Revolusi menjadi “Monumen hidup” -living monument- dari pergulatan pemikiran Soekarno. Yang kemudian dicoba dijabarkan secara konsisten ketika Si Bung menjadi Presiden.
Pemikiran Soekarno tentang kolonialisme, neo kolonialisme, dari pejuang intelektual ini, “dibumikan” dalam lingkup internasional dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung yang dikenal dengan Dasa Sila Bandung. Sejarah dunia mencatat, Kesepakatan Dasa Sila Bandung memberi inspirasi banyak negara Asia Afrika untuk melawan penjajahan, “dasa muka” penjajahan, kolonialisme, imprialisme, neo kolonialisme, neo imprialisme, meminjam istilah Soekarno dalam ungkapan berbahasa Perancis exploitation d’lome par lome, pengisapan manusia oleh manusia lainnya.
Soekarno adalah pemikir visioner, neo kolonialisme, kolonialisme baru, sekarang tampak nyata dalam lanskap ekonomi politik global dan juga nasional.
Kolonialisme baru dari Presiden AS Donald Trump dengan ambisi besar menguasai sumber daya minyak Iran, melalui sangsi ekonomi berkepanjangan dan serbuan ribuan rudal yang menghantam Iran. Dalam perang AS – Israel VS beberapa waktu lalu, dalam 24 jam Iran dijatuhi 2,000 rudal dengan kecerdasan buatan, membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Akhmad Kamaeni, pangkalan militer, sekolah dan juga rumah sakit.
Penyandraan Presiden Venezuela Maduro dengan motif penguasaan SDA Minyak, bentuk lain dari kolonialisme baru AS di Amerika Latin.
Di dalam negeri, bencana ekologi di Sumatera, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat membuka kotak pandora dalam tiga dasa warsa terakhir 900 ribu ha hutan Sumatra telah beralih fungsi menjadi industri sawit dan pertambangan untuk kepentingan oligarki dengan beking penguasa. Bentuk lain dari kolonialisme baru, hambaran hutan rusak parah, masyarakat adat terpinggirkan. Dalam bencana ekologi Sumatera rakyat sampai hari ini menderita, perusahaan sawit dan tambang sampai hari ini belum dikenakan sangsi hukum.
Dalam film Dokumenter “Pesta Babi, Kolonialisme di Tanah Papua”, menggambarkan brutalnya penguasaan lahan dengan hitungan jutaan ha, mengabaikan hak-hak adat masyarakat yang telah bermukim turun-temurun di Papua.
Proyek KEK Pulau Serangan bisa disebut tragedi lain dari kolonialisme baru atas nama investasi kapitalisme pariwisata.
Pembebasan tanah yang “keras” semenjak dasa warsa 1990’an, perusakan bentang alam, terganggunya kesucian “jejer kemiri pura ring Pura Serangan”, kawasan ekonomi eksklusif, “economic enclave” yang nyaris tidak tersambung dengan denyut ekonomi masyarakat lokal, seakan-akan negara dalam negara, membenarkan prediksi Soekarno tentang neo kolonialisme di rumah Ibu Kandungnya Ni Nyoman Rai, Bali yang sering dijuluki oleh para wisatawan sebagai “The Last Paradise”.
Di 125 tahun Soekarno, ternyata “hantu” neo kolonialisme begitu nyata, mencengkeram kehidupan rakyat, rakyat terpinggirkan secara ekonomi, politik dan juga budaya.
Realitas ekonomi politik hari ini sebuah mimpi buruk bagi Soekarno dan seluruh pendiri bangsa ini. Ucapan Soekarno tentang Jas Merah, Jangan Melupakan Sejarah menjadi tidak saja relevan tetapi menjadi sangat penting untuk keberlanjutan bangsa ini dari perspektif Proklamasi 17 Agustus 1945.

Baca Juga :  Bendesa Adat Ungasan, Wayan Disel Astawa Tersangka Kasus Reklamasi Pantai Melasti

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here