Balinetizen.com, Denpasar-
Pameran seni rupa “Warna Bali 2.0: Into the Contemporary” menghadirkan karya-karya terbaru dari 13 perupa yang bertolak dari akar tradisi visual Bali. Para perupa menafsir ulang dan mengembangkan konsep warna Bali sebagai jalan menuju kemungkinan baru dalam seni lukis kontemporer. Mereka adalah Chusin Setiadikara, Dewa Gede Ratayoga, Ketut Suwidiarta, Made Duatmika, Made Geriyawan, Made Mangku Mahendra, Made Wiradana, Nyoman Erawan, Nyoman Sani, Polenk Rediasa, Wayan Redika, Wayan Suja, dan Wayan Sujana Suklu. Para pelukis menjelajahi warna dan material yang berakar pada budaya visual tradisional Bali untuk mencari kemungkinan baru di medan seni Lukis kontemporer.
Arif Bagus Prasetyo selaku Kurator Pameran seni rupa “Warna Bali 2.0 menyebutkan pameran ini merupakan kelanjutan dari proyek pertama, yaitu pameran “Amarna Warna Bali” di tempat yang sama pada 2022, yang terkait dengan riset Yayasan Gala Rupa Balinesia dan penerbitan buku “Warna Bali” (2022).
“Jika sebelumnya karya-karya hadir sebagai semacam sampel perwujudan riset, kini eksplorasi lebih jauh dilakukan dalam kerangka wacana seni lukis kontemporer yang menekankan materialitas sebagai bagian penting,” ujar Arif dalam Jumpa Pers dengan beberapa awak media pada Jumat, 29 Agustus 2025 di Rasa Sanur.
Berbeda dengan kecenderungan modern yang banyak mengandalkan bahan sintetis, para perupa dalam pameran ini memilih kembali ke material alami tradisional seperti batu pere, kencu, ancur maupun bahan pengganti lain yang berakar pada sumber alam. Karya-karya yang dipamerkan juga menggunakan kertas ulantaga sebagai media lukis. Kertas ulantaga adalah bahan alami dengan nilai simbolis tinggi dalam ritual keagamaan Hindu Bali. Eksplorasi material ini bukan semata nostalgia, melainkan strategi kreatif untuk menemukan bahasa visual baru dari warisan budaya lama.

Karya-karya dalam pameran ini tidak hanya menghadirkan warna Bali secara visual, tetapi juga menegaskan nilai material yang khas. Penggunaan bahan alami menegaskan kekhasan material yang sarat makna sekaligus sejalan dengan isu keberlanjutan dan etika lingkungan yang semakin relevan secara global. Kanvas yang dipakai juga dari berbagai bahan alam seperti Kertas Singkong, Kertas Daluang atau Kertas Suci Kuno Bali “Ulantaga”. Pemakaian kertas Ulantaga ini menghasilkan sebuah nilai seni tinggi dan tantangan baru pagi para perupa karena keberadaan kertas ini sangat jarang ditemui dan kertas ini dikenal kertas yang sakral untuk upacara keagamaan Hindu.
Arif menambahkan Kertas Ulantaga di daerah Bali memiliki makna simbolis yang spesifik karena ini berkaitan dengan ritual keagaman yang biasanya dipakai dalam tradisi ngaben.
“Penggunaan kertas Ulantaga memiliki nilai simbolis yang tinggi dan itu dieksplorasi oleh teman-teman perupa dengan menerapkan Warna Bali pada Kertas Ulantaga, ini bertujuan juga untuk menemukan kemungkinan hal tawaran baru dari kami untuk masuk ke Luksi Kontenporer yang salah satu cirinya adalah bergantung pada eksperimen material,” jelas Arif.
Pameran ini menegaskan bahwa tradisi bukanlah ruang statis. Di tangan para perupa, tradisi menjadi ruang dinamis untuk eksplorasi artistik, spiritual, dan ekologis. Mereka tidak berupaya mengulang pencapaian lama, melainkan menawarkan kemungkinan baru di tengah pluralisme seni rupa kontemporer. Berbekal pemahaman tentang materialitas, lukisan warna Bali yang berakar pada tradisi lokal berpotensi besar untuk memasuki kancah seni lukis kontemporer global dengan identitas yang kuat.
Pameran “Warna Bali 2.0: Into the Contemporary” menjadi perayaan atas kekuatan tradisi yang hidup, materialitas yang penuh makna, dan daya cipta seni Bali pada era kontemporer. Inilah undangan bagi publik untuk menyaksikan bagaimana para perupa Bali tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga aktif membentuk masa depan seni lukis. Pameran “Warna Bali 2.0: Into the Contemporary” akan dibuka pada Minggu, 31 Agustus 2025 pada pukul 17.00 yang diselenggarakan di KENCU Ruang Seni (Jl. Kubu Anyar no.6, Kuta, Badung dan menampilkan 27 lukisan dari 13 Perupa.
Editor : Radha

