80 Tahun Pidato Soekarno, Jangan Hanya Jadi Intrumen Politik Saat Kampanye

0
159

 

Balinetizen.com, Jakarta

Tantangan besar yang menghadang bahwa nilai-nilai dasar dalam kehidupan berbangsa: keimanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan sosial, telah terlalu banyak dilanggar dan bahkan dikhianati, oleh sebuah kekuasaan yang punya kecenderungan salah guna, korup. Power tend to corrupt.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual pembelajar pemikiran Soekarno, pengamat kecenderungan masa depan, Minggu 1 Juni 2025 di Denpasar.

Dikatakan, Pancasila tetap diwacanakan, sekadar pemanis bibir -lips service -, dalam upacara yang hambar dan miskin makna, dalam realitas politik sebagai panglima, lengkap dengan demagogi politik, politik surplus janji, minus aksi bermakna.

“Penurunan makna akan nilai nilai Pancasila terlihat pada kerja kerja politik yang nyaris sebatas instrumen dalam “industri” kekuasaan, untuk dilestarikan, “power feed to power”, dengan melanggar hukum, etika moral dan kepantasan sosial,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, di mana kerja politik, nyaris menjadi kesempatan “aji mumpung”, memperkaya diri dan sejenisnya, jauh dari keutamaan politik – political virtue – sebagai kerja mulya panggilan pengabdian.

Oleh karena itu, lanjut Jro Gde Sudibya bahwa ajaran Tri Cakti Bung Karno: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian di Bidang Kebudayaan, terus diwacanakan.

” Ajaran Tri Cakti Bung Karno, jangan hanya sebagai instrument kampanye “penjual” mimpi bagi wong cilik: buruh, tani, nelayan, pekerja srabutan, pekerja sektor informal, kemudian dengan mudah ditelikung dalam pemutusan proyek yang sarat transaksional dan kental moral hazard,” kata Jro Gde Sudibya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

Baca Juga :  Petugas Gabungan Perketat Pemeriksaan di Pelabuhan Gilimanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here