Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom (tengah).
Balinetizen.com, Denpasar
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom meminta penundaan proyek percontohan pelepasan telur nyamuk ber-Wolbachia di Denpasar dan Singaraja.
“Kami tidak menolak, tetapi kami hanya meminta untuk menunda, sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan karena ada pro dan kontra di Bali sebagai destinasi wisata. Kami meminta tim ahli agar sosialisasi secara masif, bukan hanya di Denpasar dan Buleleng tetapi ke seluruh Bali, Jelas I Nyoman Gede Anom, ditemui di Denpasar, Jumat 24 November 2023.
Penundaan ini diperkirakan hingga waktu yang belum ditentukan di masa depan karena adanya perbedaan pendapat di Bali.
Anom menekankan perlunya kampanye kesadaran yang luas dan dipimpin oleh para ahli, yang mencakup lebih dari sekadar Denpasar dan Buleleng hingga mencakup seluruh wilayah Bali.
Pejabat tersebut menyoroti bahwa beberapa kabupaten masih belum mendapat informasi, sehingga berkontribusi terhadap pro dan kontra seputar inisiatif ini.
Yang mengejutkan, hanya Denpasar dan Buleleng yang memberikan persetujuan, yakni hanya 90%.
Anom menekankan pentingnya pendidikan masyarakat yang komprehensif tentang Wolbachia, fungsinya, dan aspek terkait.
Tujuannya adalah untuk menyikapi perdebatan yang sedang berlangsung dengan hormat, mengingat beragamnya pendapat masyarakat Bali.
Mengekspresikan keprihatinannya, Anom menyatakan bahwa Bali juga sedang mencari evaluasi ilmiah dari para ahli lokal dan berbagai institusi akademis untuk mengetahui potensi manfaat atau kelemahan Wolbachia.
Tujuannya adalah untuk menyajikan studi komprehensif yang menunjukkan dampak penerapan Wolbachia di wilayah yang telah mengadopsinya.
Anom bersikeras untuk mengandalkan para ahli dalam negeri untuk evaluasi ini, menggarisbawahi perlunya kebulatan suara di antara para profesional mengenai apakah Wolbachia menguntungkan atau harus ditunda, dengan alasan penelitian yang bertentangan.
Agar Bali bisa maju, Anom menyoroti pentingnya mendapat persetujuan resmi dari Kementerian Kesehatan terkait proyek Wolbachia. Hingga saat ini, baru lima kota di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Bontang, Semarang, dan Kupang yang sudah mendapat izin resmi dari Kementerian Kesehatan.
Mengingat perdebatan yang sedang berlangsung dan perbedaan pendapat, Anom meminta penghentian sementara uji coba Wolbachia di Bali hingga semua persyaratan, termasuk kajian menyeluruh, kesadaran masyarakat, dan persyaratan hukum terpenuhi.
Ia membenarkan pendekatan hati-hati ini dengan menyoroti sifat Wolbachia sebagai organisme hidup, berbeda dari vaksin, sehingga sulit untuk dikendalikan setelah diperkenalkan.
Anom juga membantah klaim adanya telur nyamuk Wolbachia di Lovina, dan menekankan bahwa pihak berwenang telah melakukan inspeksi dan memusnahkan telur yang teridentifikasi.
Ketika diskusi terus berlanjut, nasib proyek Wolbachia di Bali bergantung pada kondisi yang memuaskan mulai dari evaluasi ilmiah hingga persetujuan resmi, memastikan pendekatan yang seimbang dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pariwisata dan sentimen lokal.(Tri Prasetiyo)

