ESB Gelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Bali, Bahas Pentingnya ‘Data-Driven F& B’ untuk Menangkan Peluang ‘Lipstick Effect’

0
66

Balinetizen.com, Badung

Setelah sukses menyambangi Kota Bandung dengan menjaring lebih dari 1.000 pendaftar pengusaha kuliner, PT Esensi Solusi Buana (ESB) – penyedia ekosistem teknologi F&B terintegrasi terbesar di Indonesia peraih Forbes Asia 100 to Watch 2025 – kini menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Bali. Sebagai kota kedua dalam rangkaian roadshow nasional bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”, Bali dipilih karena statusnya sebagai destinasi wisata internasional yang kompetitif, dimana pelaku usaha domestik harus bersanding dengan brand mancanegara di tengah pergeseran daya beli saat ini. Langkah strategis ini diambil ESB untuk mendukung pebisnis kuliner lokal mengamankan margin dan memperkuat daya saing mereka. Melalui pemanfaatan data operasional real-time serta efisiensi sistem digital end-to-end, kegiatan ini hadir sebagai ruang edukasi bagi pelaku usaha di Bali untuk menavigasi dinamika pasar
F&B modern secara optimal.

Kondisi industri F&B saat ini tengah menghadapi paradoks ekonomi yang menantang. Di satu sisi, ekonomi Indonesia sukses mencatat rekor pertumbuhan 5,61 persen pada Triwulan I-2026′. Namun disisi lain, data mengungkap fakta menyusutnya kelas menengah Indonesia dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025, dengan penurunan proporsi terhadap total penduduk yang cukup signifikan dari 21,4 persen pada 2019 menjadi 16,6 persen pada 20252. Tekanan daya beli ini melahirkan fenomena Lipstick Effect, dimana konsumen menahan belanja besar seperti properti dan mengalihkan anggarannya ke kesenangan kecil harian (small indulgences) seperti kopi.

Hal tersebut tercermin dari konsumsi kopi domestik Indonesia pada 2026/27 yang menurut laporan USDA diproyeksikan tetap tumbuh positif menjadi 4,83 juta kantong’ (sekitar 290 ribu ton atau setara dengan miliaran cangkir kopi). Meskipun kenaikan harga biji kopi sempat menjepit margin pelaku usaha dan menggeser preferensi konsumen ke varian kelas menengah-bawah (low-to-medium grade), namun permintaan pasar secara keseluruhan dinilai tetap kuat.

Di Bali sendiri, potensi pasar ini terbukti tetap kuat di tengah dinamika global. Gubernur Bali Wayan Koster* mencatat bahwa aktivitas ekonomi dan tingkat hunian hotel masih
menunjukkan kinerja positif meskipun jumlah kunjungan wisatawan sempat mengalami penurunan tipis akibat kekhawatiran dampak konflik global dan perlambatan ekonomi Ketangguhan pariwisata Bali ini tercermin nyata dari penerimaan Pajak Hotel dan Restoran
(PHR) yang hingga Mei 2026 telah mencapai sekitar Rp2,89 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar Rp300 miliar dibanding periode yang sama tahun 2025 yang berada di kisaran Rp2,6 triliun. Indikator konkret ini menegaskan bahwa daya beli sektor hospitality Bali tetap kokoh sekaligus menjanjikan omset besar bagi pelaku usaha yang jeli menangkap peluang.

Baca Juga :  Ajak Peranserta Masyarakat, BPBD Bali Akan Launching Aplikasi Sistem Informasi Kebencanaan

Gunawan, Co-Founder & CEO ESB, menjelaskan bahwa di era Lipstick Effect, pasar F&B Bali menyimpan potensi pertumbuhan yang besar bagi pelaku usaha yang didukung oleh sistem operasional yang tepat. “Masyarakat dan wisatawan di Bali tetap aktif berkuliner di luar, namun kini mereka jauh lebih selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas (value) yang didapatkan. Di saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku global menjadi tantangan tersendiri yang menggerus margin keuntungan secara tidak kasat mata. Dalam kondisi ini, pengelolaan operasional secara manual tentu memiliki keterbatasan dalam merespons pasar yang bergerak cepat. Oleh karena itu, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah untuk bertumbuh, melainkan sebuah
fondasi penting guna menjaga ketahanan bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha di
tengah kompetisi yang dinamis.”.
Guna menjawab tantangan tersebut, ESB menghadirkan tiga infrastruktur digital
unggulannya yang terintegrasi dari hulu ke hilir:
* ESB POS: Menjamin keandalan manajemen kasir, akurasi pencatatan transaksi harian,
* dan kelancaran operasional di lini depan (front-end).
* ESB Order: Memodernisasi pengalaman konsumen melalui sistem pemesanan
* mandiri (scan-order-pay) dari meja yang efisien, adaptif, serta mampu memangkas waktu antrian hingga 40%.
* ESB Core (ERP): Menyediakan visibilitas data stok dan inventaris secara real-time,
* memangkas biaya waste bahan baku secara otomatis (back-end), serta mendeteksi erosi margin sebelum menyentuh titik kritis.
Tantangan operasional di lapangan ini diakui oleh Mas Munir, Pemilik Kopi Jenar dan tokoh kopi lokal Bali. “Ramainya traffic kunjungan ‘turis dolar’ ke Bali tidak otomatis menghasilkan keuntungan jika operasional kita bocor.
Sebelum menggunakan ESB, stres terbesar saya
adalah mengelola stok bahan baku yang tidak akurat. Di catatan teoritis stok biji kopi atau sirup masih ada, tapi di lapangan sudah habis. Melalui integrasi ESB POS dan ESB Core (ERP), setiap cangkir kopi yang keluar kini otomatis memotong gramasi stok di gudang secara presisi. Angka waste kelihatan jelas, kebocoran dikunci, dan saya bisa pulang ke rumah dengan tenang karena laporan penjualan dipantau langsung dari handphone,” ungkap Munir.
Dampak positif dari sudut pandang pelayanan juga dipaparkan oleh Heru Dwi Soesilo, Founder 2080 Burger yang menjadi salah satu pembicara Kopdar Racik Bisnis F&B Bali. “Di Bali, saat musim liburan atau jam sibuk (peak hours), antrian panjang di kasir sering membuat pelanggan malas dan pindah ke tempat lain. Dengan adanya teknologi ESB Order, konsumen datang bisa langsung duduk di meja, scan QR, memesan, dan langsung membayar lewat e-wallet. Proses ini memotong waktu antrian hingga separuhnya dan mempercepat perputaran meja (table turnover) sehingga omset harian naik tanpa perlu menambah mesin kasir. Sistem ini sama sekali tidak mengurangi kehangatan hospitality Bali; justru karena tugas repetitif kasir diambil alih teknologi, staf kami memiliki waktu lebih banyak untuk menyapa dan berinteraksi akrab dengan pengunjung,” jelasnya
Sinergi Ekosistem: Kolaborasi untuk Ketangguhan Bisnis
Kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B ini merupakan inisiatif edukasi berkelanjutan dari ESB sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam merangkul komunitas pengusaha kuliner di tanah air. Dirancang khusus sebagai forum diskusi, sesi mentoring, dan bedah studi kasus bagi para owner, founder, serta decision maker, Bali terpilih sebagai pemberhentian kedua dari rangkaian roadshow 10 kota nasional yang berjalan sepanjang tahun 2026, mencakup kota-kota besar lainnya dari Medan hingga Makassar.
Guna membantu lebih banyak pelaku usaha F&B ‘naik kelas’ melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, program inklusif ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, serta asosiasi kuliner di berbagai daerah, dengan didukung penuh oleh para mitra strategis utama:
* BCA (Official Payment Partner) — Memperkuat fundamental keuangan bisnis melalui
ekosistem pembayaran OCEAN by BCA. Integrasi EDC BCA dan QRIS langsung dengan sistem kasir ESB POS memungkinkan setiap transaksi berjalan mulus, aman, dan tercatat akurat untuk keperluan rekonsiliasi keuangan.
* GoApp – Menghadirkan solusi Customer Relationship Management (CRM) berbasis
* agentic Al yang menggabungkan loyalty system dan data analytics untuk membantu bisnis meningkatkan repeat order. Melalui integrasi data transaksi dengan ESB, GoApp memungkinkan personalisasi campaign dan automasi komunikasi yang lebih tepat sasaran sehingga bisnis dapat berkembang tanpa bergantung pada diskon.
* IWARE – Menyediakan perangkat keras (hardware) terkini yang dirancang khusus
* untuk mengimbangi kecepatan ekosistem ESB. Dengan infrastruktur yang andal IWARE memastikan strategi Lean Operations tetap konsisten dari meja kasir hingga ke dapur, tanpa hambatan teknis.
“Keberlanjutan industri F&B di Bali kini tidak hanya bertumpu pada produktivitas di dapur, melainkan juga pada seberapa optimal kita mengelola dan memanfaatkan data operasional bisnis. Momen ini merupakan kesempatan berharga bagi pelaku usaha kuliner di Bali untuk menyelaraskan kembali sistem internal mereka. Kita ingin menunjukkan bahwa keunikan serta autentisitas rasa lokal, jika dipadukan dengan tata kelola teknologi berstandar internasional, akan mampu tampil unggul dan berdaya saing tinggi. Bersama ESB, mari kita bersinergi mengubah setiap tantangan menjadi peluang, menjaga stabilitas margin usaha, dan menjadi tuan rumah yang sukses di pasar sendiri,” tutup Gunawan. (rls)

Baca Juga :  TP. PKK Denpasar Kembali "Menyapa dan Berbagi", Bagikan Ratusan PMT Untuk Warga Kecamatan Denut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here